Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

Ulekan Asrika Makan Korban Hingga ke Jalur Hukum

Lumajang, Motim - Proses hukum Puha Asrika (42), warga Dusun Krajan, Desa Duren, Kecamatan Klakah, pelaku tindak pidana penganiayaan menggunakan ulek-ulek terhadap tetangganya bernama Yuyun Sulisiana (28) hingga kepalanya bocor terus berjalan.
Terlapor saat diamankan petugas
Terlapor saat diamankan petugas
"Berkas perkaranya masih tahap 1, insya Alloh tak lama lagi sudah tahap 11 Mas. Sekarang Puha Asrika saya titipkan di Lembaga Permasyarakatan kelas 11B Lumajang," kata Kanit Reskrim Polsek Klakah Bripka Hadi Saputra, SH mendampingi Kapolsek AKP Dodik Suwarno, SH.

Hadi juga menjelaskan bahwa pada Jum'at (9/11) sekira pukul 09.30 Wib, korban datang ke rumah terlapor berniat untuk menagih uang yang dipinjamnnya beberapa waktu yang lalu. Namun, saat ditagih terjadi salah faham antar keduanya hingga terlibat cekcok mulut dan berakhir penganiayaan yang menyebabkan kepala korban mengalami luka robek.

Tak terima dengan kejadian itu, usai mendapat perawatan medis korban melapor ke Polsek Klakah meminta agar kasus yang menimpa dirinya diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

Atas dasar laporan korban itulah, pihaknya kemudian berkoordinasi dengan keluarga terlapor juga perangkat desa setempat berharap terlapor menyerahkan diri. Alhamdulillah tak lama kemudian terlapor berhasil diamankan.

"Pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka dan sudah di tahan saat ini dititipkan di Lapas kelas IIB Lumajang. Perbuatannya dijerat pasal 351 KUHP tentang penganiayaan,"tegasnya.(cho)

Sungai Meluap, Jembatan di Randuagung Ambrol

Lumajang, Motim - Jembatan Tofoyan penghubung dua dusun di Desa Kalipenggung Kecamatan Randuagung ambrol sebagian, Sabtu (8/12). Penyebabnya karena hujan deras yang membuat sungai meluap. Untuk sementara, hanya bisa digunakan pejalan kaki, kendaraan tidak berani melintas.
Petugas dan warga melihat kondisi jembatan
Petugas dan warga melihat kondisi jembatan
Muhammad, warga setempat mengatakan, kalau hujan deras memang sungai selalu meluap. "Kalau sudah hujan, air yang biasanya lewat ke selatan itu ditutup agar lewat sini semua, sehingga ketika banjir ini sampai penuh," jelasnya.

Kondisi saat hujan ini sudah terjadi lama. Sengaja air dialihkan ke sungai ini semua karena ada tanaman warga yang takut rusak diterjang banjit. "Dari dulu memang ditutup karena banyak tanaman warga, dari Kali banter," ucapnya.

Rusaknya jembatan ini diakuinya mengganggu aktifitas warga. Karena satu-satunya jembatan untuk menujur ke pasar setempat dan sekolah. "Kami kesulitan, karena ini satu-satunya jalan menuju ke pasar dan yang penting ketika murid kami sekitar ketika mau sekolah," jelasnya.

Ia juga khawatir saat ujian semester nanti, jembatan rusak parah dan tidak bisa dilalui sama sekali. Sehingga anak-anak mau ke sekolah tidak bisa. "Kami juga khawatir kalau ada banjir lagi jembatan ini ambrol sudah, sementara hanya dilalui pejalan kaki. Karena ketakutan, tidak kuat kalau pakai motor," ujarnya. (fit)

Lumajang Jadul #4: Bukan Sekadar Nostalgia

Lumajang, Motim - Lumajang Jaman Dulu (Jadul) kembali digelar di Kawasan Wonorejo Terpadu (KWT). Pergelaran untuk memperingati Hari Jadi Lumajang (Harjalu) ke-763 ini dibuka selama 3 hari, pada 8-10 Desember 2018. Ada sejumlah hal yang berbeda kali ini dibandingkan edisi-edisi sebelumnya.
Lumajang Jaman Dulu #4 untuk memeriahkan Harjalu
Lumajang Jaman Dulu #4 untuk memeriahkan Harjalu
Apa yang berbeda itu? Seperti yang diungkapkan Bupati Lumajang Thoriqul Haq, M.ML, di Lumajang Jadul bukan hanya sekadar untuk nostalgia. Bukan pula hanya sekadar untuk menarik wisatawan. Tapi diharapkan lebih dari itu. Yakni bisa memantik perekonomian Lumajang. Khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Karena seperti diketahui, di edisi keempat atau sejak 2015 ini, ada sekitar 150 stan yang disediakan. Dari jumlah itu tidak semua stan untuk memamerkan barang-barang kuno. Tidak hanya mengekspos kekayaan seni dan budaya Lumajang. Ada banyak stan yang disediakan khusus untuk menjual produk-produk hasil dari UMKM. Namun tetap, stan yang ada dibikin dalam suasana jadul.

Terlihat berbagai produk UMKM yang dijual disana. Dari produk makanan olahan hingga kerajinan rumahan. Bahkan Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Timur juga berpartisipasi dalam kesempatan kali ini. Meksi begitu, bupati masih ingin di Lumajang Jadul yang akan datang, akan lebih banyak lagi mengekspos produk Lumajang.

"Harus ekspos soal produksi UMKMnya, pertanian, dan hasil olahannya," katanya pada wartawan saat membuka acara secara resmi, Sabtu (8/12).

Lanjutnya, kedepan juga diharapkan bukan hanya ajang untuk menunjukkan kekayaan budaya. Namun juga bisa menjadi wadah bagi investor untuk melihat potensi yang ada. "Jadi ada pertemuan orang yang mau investasi dengan penyedia bahan baku," tegasnya.

Thoriq juga menegaskan, Lumajang Jadul sudah diproyeksikan menjadi pargelaran yang bukan hanya dinikmati warga Lumajang saja. "Targetnya menjadi acara rutin. Saya berharap tahun depan menajdi destinasi Jatim maupun nasional. Dan acaranya bisa menarik lagi," ungkapnya.

Sementara di kesempatan yang sama, Wakil Bupati Ir. Indah Amoerawati, M.Si menambahkan, melaui Lumajang Jadul jiga dapat mengingatkan jika peran wanita juga sangat besar. Salahsatunya peran didalam dunia UMKM. Karena mayoritas pelaku UMKM adalah dadi kalangan perempuan.

"Saya berharap perempuan kita lebih berinovaso dan pengelolaan di bahan pertanian lebih banyak. Karena kita negara agraris," pungkasnya.

Sejak dibuka pada hari pertama, ribuan masyarakat sudah memadati lokasi Lumajang Jadul. Selain itu selama tiga hari itu pengunjung juga akan disuguhi berbagai hiburan. Diantaranya pargelaran wayang kulit hingga musik danglung. Juga ada lomba fotografi, stan terjadul, dan pengunjung terjadul. (fit)

Setelah Festival Tahu, Kini Muncul Festival Tempe

Lumajang, Motim - Setelah Festival Tahu sukses digelar beberapa kali di Kecamatan Kunir, kini gelaran tak jauh beda juga mulai diawi. Yakni Festival Tempe yang mulai digelar di Kelurahan Jogotrunan Kecamatan Lumajang, Minggu (9/12). Sekaligus untuk memeriahkan Hari Jadi Lumajang (Harjalu) ke-763 Tahun.
Tumpeng dari tempe diarak
Tumpeng dari tempe diarak
Festival yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB dutandai dengan Tumpeng dari tempe yang diarak dari Kawasan Bagusari menuju Jl. Iptu Jam'ari. Bupati Lumajang, Thoriqul Haq, M.ML., hadir langsung dalam kesempatan ini.

Ia mengaku bangga dengan para pengerajin tempe yang menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi Kelurahan Jogotrunan. "Sejauh ini, di Kelurahan Jogtrunan, ada 61 pengerajin tempe (penempe) yang sudah sekian waktu memproduksi tempe yang menjadi bagian pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Bupati berkeinginan agar masyarakat Lumajang lainnya dapat meniru Kelurahan Jogotrunan dengan produk lain yang lebih inovatif. Untuk mendukung peningkatan konsumsi produk lokal, Bupati telah mencanangkan semua masyarakat Lumajang harus mengkonsumi produk Lumajang, seluruh kegiatan Pemerintahan harus menghidangkan produk asli Lumajang.

"Saya sudah mencanangkan bahwa orang Lumajang harus makan produknya Lumajang, makan tempe harus tempe Lumajang, buah harus buahnya Lumajang. Setiap kegiatan sudah saya intruksikan menggunakan produk Lumajang," tuturnya.

Sementara itu, Lurah Jogotrunan, Ahmad Faishol mengucapkan terima kasih kepada Bupati yang telah memperhatikan angan-angan masyarakat Jogotrunan, khususnya para produsen tempe sehingga perekonomianya meningkat.

Ia berharap, festival tempe tersebut dapat memberikan motivasi dan semangat para pengerajin tempe untuk meningkatkan inovasi produktivitas tempe. Dalam festival tempe juga diadakan Kenduren tempe gratis, Pengembangan produk olahan tempe serta aneka masakan yang berbahan dasar tempe. (*/fit)

Pertama Kali, Lomba 'Rampak Nadhom Imrithy' Ikut Meriahkan Harjalu

Lumajang, Motim - Lomba Kesenian Islami 'Rampak Nadhom Imrithy' yang digelar di Gedung Nahdlatul Ulama Lumajang, Minggu (9/12) menjadi salahsatu agenda rangkaian untuk memeriahkan Hari Jadi Lumajang (Harjalu) ke-763 Tahun. Kegiatan yang terselenggara atas kerjasama Pemkab Lumajang dan RMI PCNU Lumajang diikuti puluhan grup peserta.
Lomba Kesenian Islami 'Rampak Nadhom Imrithy' yang digelar di Gedung Nahdlatul Ulama
Lomba Kesenian Islami 'Rampak Nadhom Imrithy' yang digelar di Gedung Nahdlatul Ulama
Total ada ratusan santri/santriwati yang ikut berpartisipasi dalam kesempatan ini. Mereka meerupakan perwakilan dari berbagai Pondok Pesantren (Ponpes) yang ada di Lumajang. Terlihat mereka bersemangat mengikuti perlombaan untuk menjadi bagian dari semarak Harjalu.

Ketua Panitia, sekaligus ketua RMI PCNU Lumajang, H.Ahmad Dzunnajah, M.Pd, dalam sambutannya menyampaikan, bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan unik yang pertama diadakan di Lumajang. Karena belum pernah ada sebelumnya.

“Lomba Imrithy bilqotean ini bukan tujuan, tapi ini sebagai sarana agar santri semakin semangat dalam belajar,” katanya.

Sementara itu Gus Muslih, mewakili PC NU Lumajang mengapresiasi kegiatan ini dan berharap kegiatan ini di lestarikan dan dilanjutkan tahun berikutnya. “Kegiatan ini harus dilestarikan dan dilanjutkan tahun berikutnya. Kalau bisa tahun depan bukan hanya imrithy yang di lombakan tapi juga nadhom Alfiyah," ujarnya.

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat setda Lumajang, Iskandar yang mewakili Bupati Lumajang Thoriqul Haq, dalam sambutannya, juga mendukung lomba ini sebagai media untuk merawat tradisi pesantren. Ia juga sangat setuju untuk acara ini di lestarikan di tahun berikutnya sebagai rangkaian kegiatan harjalu.

“Ini adalah kegiatan yang membantu pemerintah dalam membina para generasi muda di Lumajang, terima kasih PC RMI yang telah menyelenggarakan. Lomba ini berjalan dengan sportif tanpa ada KKN, tanpa ada piala bergilir , dan tanpa ada titipan,” pungkasnya. (fit)