Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

» » » » » Gagahi Pacar, Irfan, Sopir Angkot Masuk Penjara

Lumajang, Memo_Kesengsem dengan kemolekan tubuh pacarnya, seorang sopir angkot bernama Irfan (20), warga Dusun Tlogorejo Desa/ Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, nekat merenggut keperawanan pacarnya, sebut saja Rosa (13), warga Desa Simojayan, Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Malang.
Ipda Gatot Budi Hartono

Akibat perbuatanya, Irfan dibekuk petugas gabungan unit Reskrim Polsek Tempursari bersama unit Resmob Polres Lumajang di rumahnya. Kasus ini sudah ditangani unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Lumajang.

Sedang sopir muda yang ditetapkan sebagai pelaku persetubuhan terhadap anak di bawah umur itu, sudah meringkuk di kamar tahanan Mapolres Lumajang,” kata Kasubag Humas Polres Lumajang, Ipda Gatot Budi Hartono saat ditemui Memo Timur, Senin pagi (19/10), pukul 09.00 WIB.

Kejadian itu bermula pada pagi itu Rosa, selaku korban dijemput oleh Irfan di sekitaran rumahnya dengan mengendarai sepeda motor menuju ke sebuah rumah yang terletak di Kecamatan Tempursari. Sesampai di sana, korban diajak masuk ke dalam kamar kemudian pintu kamar dikunci.

Rambah Hutan Lindung, Satyo Dikeler Polisi

Di dalam kamar itulah, pelaku memaksa korban untuk melakukan hubungan intim layaknya suami istri. Korban menolak dan berusaha lari, namun gagal karena pintu kamar terkunci. ”Pelaku yang sudah kesetanan nekat menyetubuhi Rosa itu,” jelasnya.

Berangkat dari perbuatan pelaku itulah, Rosa bersama orang tuanya mendatangi Polsek Tempursari melaporkan pelaku. Usai memperoses laporan korban, unit Reskrim Polsek Tempursari bersama unit Resmob Polres Lumajang langsung mencari keberadaan pelaku dan menangkapnya.

Sekarang sopir angkot sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus persetubuhan terhadap anak di bawah umur, TKP Tempursari. Pelaku dijerat pasal 81 UURI Tahun 2002 sebagaimana telah dirubah pasal 76D jo pasal 81 UURI  No 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, ancaman hukuman maksimal 15 Tahun penjara,” tegas Ipda Gatot Budi Hartono. (cho)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: