Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

Lumajang, Memo_Mas’udi (43), warga Desa Banyuputih Lor, Kecamatan Randuangung pada Kamis (15/10), Pagi sekitar pukul 09,00 WIB. mendatangi Mapolres Lumajang. Sambil menenteng amplop coklat yang berisikan data-data, dirinya bermaksud melaporkan aksi  penyelewengan bantuan pupuk yang dilakukan oleh Sekretaris Desa (Sekdes) Banyuputih Lor, Kecamatan, Randuagung, Ahmad Fauzi bersama temannya Mat Heri asal Dusun Pondoktelo, Desa Banyuputih Lor, Kecamatan Randuagung.
jual pupuk subsidi

Adapun pupuk yang diselewengkan oleh keduanya adalah, pupuk bantuan murni dari pemerintah melalui UPTD Pertanian Randuagung kepada para petani terdampak di Desa Banyuputih Lor, Kecamatan Randuagung yang dibagikan secara cuma-cuma (gratis). Adapun jumlah bantuan pupuk tersebut mencapai  8 ton yang terdiri dari NPK seberat 4 ton dan Urea seberat 4 ton.

Pupuk tersebut adalah bantuan dari pemerintah proyek tahun 2015 yang ditujukan kepada para petani terdampak karena imbas dari proyek pembangunan dam yang ada di area sawah tersebut Mas,” terang Mas’udi kepada Memo Timur ketika hendak masuk ke halaman Mapolres Lumajang.

Dalam pendistribusianya, dari UPT Pertanian Randuagung diambil oleh kedua orang tersebut dengan menggunakan kendaran roda 4. Selanjutnya, pupuk bantuan seberat 8 ton itu diturunkan di rumah Mat Heri sebanyak 10 sak sedangkan sisanya dibawa pulang  ke rumah Ahmad Fauzi yang ada di Dusun Gladakserang, Desa Banyuputih Lor.

Ironisnya, bantuan pupuk dari pemerintah tersebut tidak dirapatkan atau tidak ada pemberitahuan kepada para petani yang berhak menerimanya. Belakangan diketahui, pupuk bantuan tersebut ternyata oleh keduanya dijual kepada petani lain dengan harga yang bervariatif. Untuk Pupuk Urea dijual dengan harga RP 75 ribu/zak. Sedangkan NPK dijual Rp 90 ribu/zak.

9 Bulan, PPA Proses 64 Perkara

Yang lebih mengherankan lagi, meski tidak memiliki surat keputusan (SK) sebagai Sekdes di Desa Banyuputih Lor, Ahmad Fauzi setiap hari selalu mengantor di balai desa. Bahkan, sampai sekarang ia masih memegang setempel Sekdes. “Kalau Sekdes yang lama sudah almarhum Mas,” jelasnya.

Ketika mengambil pupuk, kepada pihak pertanian Mat Heri mengaku perwakilan dari HIPPA. Tetapi setelah dikonfirmasi, Mat Heri sendiri mengaku tidak tahu menahu masalah pupuk bantuan tersebut. Bahkan ia mengatakan, kalau pupuk tesebut dibawa oleh Ahmad Fauzi. “Sekarang ini, kalau ditanya masalah pupuk, keduanya selalu saling melempar,” jelasnya.

Sampai sekarang kata Mas’udi, masyarakat khususnya para petani yang berhak menerima bantuan pupuk tersebut mengaku geram dan kesal terhadap ulah kedua pelaku. Untuk itu, ia mewakili para petani, bermaksud melaporkan aksi penyelewengan bantuan pupuk tersebut kepada pihak Polres Lumajang.

Intinya, kami meminnta agar kedua pelaku bisa diproses secara hukum supaya masyarakat setempat lega,” ungkapnya.

Terlebih lagi, lajut Mas’udi, ia juga merasa kesal dengan beberapa staf desa yang mengaku sebagai pengurus  anggota kelompok tani. Sehingga , banyak sekali program atau bantuan dari pemerintah pusat atau daerah kepada desa tetapi tidak pernah dilaporkan sama sekali.

Contohnya, bantuan dari Dinas PU Lumajang yang diberikan kepada masyarakat yang jumlahnya mencapai Rp 80 juta dan diperuntukan bagi pembangunan sarana pengairan di pedesaan. “Meski fisiknya sudah ada, namun sampai sekarang belum ada LPJ-nya Mas,” pungkasnya. (tri)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: