Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

» » » » Gelar Sidang Salim Kancil, Jangan Ada yang Terdzolimi

Lumajang, Memo_Sidang perdana perkara pembunuhan Salim Kancil, penganiayaan Tosan, dan tambang pasir ilegal telah digelar di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (18/2). Selanjutnya, sebanyak 37 terdakwa bakal menjalani sidang kembali dengan agenda berikutnya yang dikabarkan digelar tiap pekan.
As'at Malik


Menanggapi dimulainya persidangan perkara ini, Bupati Lumajang As’at Malik mengatakan, pihak pemerintah sudah berkoordinasi dengan Kejaksaan maupun Pengadilan terkait informasi proses persidangan. Ini dikarenakan, proses persidangan yang digelar di Surabaya, sehingga pihak pemerintah tidak mampu menjangkau langsung untuk mengikuti proses persidangan.

Bupati berharap, persidangan berjalan seadil-adilnya dan sesuai dengan hukum yang berlaku di negara ini, baik soal perkara kriminalitasnya maupupun pertambangan ilegal. “Adili sesuai dengan kesalahan masing-masing, karena aturan sudah jelas, soal kriminal dan ilegal miningnya. Jangan sampai kemudian ada yang terdzalimi,” ujar bupati pada sejumlah wartawan, Jum’at (19/2).

Dengan persidangan ini, selanjutnya diharap bisa membuat peristiwa yang terjadi beberapa bulan lalu lebih jelas lagi, seperti halnya kronologis kejadian, pelaku, dan motif  kejadian benar-benar bisa diketahui kebenarannya. “Persidangan ini kan biar jelas seperti apa sih kejadinnya, pelakunya, motifnya, akan terkuak semua,” lanjut bupati.

Bupati berharap semua masyarakat bisa mengambil sisi positif dan membuatnya pelajaran dalam peristiwa ini, karena seperti yang diharapkan setiap kesalahan bisa diperbaiki. “Setiap kelemahan, kesalahan, dan kekurangan bisa diperbaiaki. Semua orang harus bisa mengambil pelajaran dari proses yang telah terjadi,” harap bupati.

Sidang Salim Kancil, 2 Terdakwa di Bawah Umur Disidang Belakangan

Sementara pihak dari keluarga Salim Kancil saat ditanya apakah bakal menghadiri persidangan di Surabaya atau tidak, saat ini keluarga masih menunggu arahan dari tim LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban). “Nunggu dari LPSK, kalau kita diajak ke sana ya ikut ke sana,” ujar Tijah, istri almarhum Salim Kancil saat ditemui di ruamahnya.

Tosan, korban penganiayaan menegaskan, dirinya siap dihadirkan dalam proses persidangan  sebagai saksi maupun korban, dirinya juga siap soal materi yang akan disampaikan di proses persidangan. Ia juga menegaskan agar proses persidangan jangan sampai main-main biar tidak kembali terjadi kekisruhan. “Sidangnya jangan sampai main-main biar tidak kisruh, harus sportif,” tegasnya.

Namun, ia tak akan hanya fokus pada soal pembunuhan Salim Kancil dan penganiayan dirinya, namun lebih pada persoalan utama, yakni terkait tambang ilegal. Karena itu merupakan persoalan utama yang diperjuangkan oleh dirinya dan Salim Kancil serta rekan aktivis lainnya.

Yang jelas bukan hanya soal pembantaian saja atau Salim Kancil, yang saya ungkapkan juga soal perjuangan menutup tambang pasir ilegal di Lumajang. Saya sudah siap dengan segala cara di persidangan,” jelas Tosan.

Dari informasi yang dihimpun, dalam sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan di Pengadilan Negeri Surabaya yang digelar Kamis (18/2), Kuasa hukum terdakwa Hariyono, kepala desa nonaktif Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, menyatakan tidak akan mengajukan nota keberatan (eksepsi) atas dakwaan jaksa. Dengan demikian, proses persidangan akan dilanjutkan ke agenda sidang berikutnya yakni pemeriksaan saksi-saksi. (cw)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: