Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

Lumajang, Memo_Semakin banyak industri pengelolahan kayu di Lumajang tidak dibarengi dengan jumlah bahan baku yang tersedia untuk mencukupi kebutuhan industrial. Sehingga, dengan jumlah ketersediaan bahan baku yang tidak seimbang, para pengusaha industri kayu harus bersaing dan berebut.


Seperti yang diungkapkan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lumajang (Disperindag) Agus Eko, sehingga untuk mencukupi kebutuhan bahan baku, sejumlah industri kayu kecil maupun besar harus mengambil bahan baku dari luar kota. Hal ini dilakukan guna industri tetap berjalan dan mampu bersaing.

Ada keluhan dari sejumlah pabrik kayu, karena masih banyak pabrik pengelolahan kayu yang kekurangan bahan baku, jadinya mereka rebutan dengan pabrik kayu lainnya,” ujar Agus Eko saat dihubungi, Selasa (16/2).

Agus Eko menjelaskan, biasanya pemilik industri kayu mendatangkan bahan baku dari luar kota seperti Probolinggo, Jember, dan Bondowoso. “Jika kondisinya begini, para pemilik pabrik kayu akhirnya mendatangkan bahan baku dari luar kota,” jelasnya.

Ditanya soal produk yang dihasilkan oleh industri pengelolahan kayu di Lumajang, Agus Eko sangat mengapresiasi hasil olahan yang dihasilkan. Pasalnya ia pernah turun langsung ke sejumlah industri pengelolahan kayu, baik skala menengah maupun besar. Dari pantaunnya, produk yang dihasilkan tidak kalah dengan produk luar kota bahkan sudah kelas innternasional.


Agus menegaskan, produk kayu olahan dari Lumajang mampu bersaing secara internasional, karena sebagian sudah diekspor ke luar negeri seperti ke Jepang, Taiwan, Korea, China, dan Thailand. Hasil ini menurut Agus bisa dibuat Lumajang untuk modal menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). “Mampu bersaing di kelas internasional, paling banyak diekspor ke Taiwan dan China,” jelasnya. (cw)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: