Ad

Memo Timur Lumajang
26 May 2016

Kisah Dramatis Penemuan 2 Pendaki Hilang

Posted by on 26 May 2016

Lumajang, Memo Timur_Dua pendaki asal Kabupaten Cirebon, Zirli Gita Ayu Safitri (17), dan Supyadi (27), yang hilang di Semeru ditemukan di Air Terjun Gunung Boto Tawon Songo Pasrujambe, Selasa (24/5), sore. Mereka ditemukan Tim SAR Gabungan dan dievakuasi untuk dibawa ke RSUD dr. Haryoto pada malam harinya. Pada Rabu (25/5), pagi keduanya sudah meninggalkan rumah sakit dan bertolak ke Malang.


Dalam penemuan keduanya yang tersesat selama 5 hari, ada kisah dramatis yang diceritakan oleh Supyadi pada Tim SAR. Selama lima hari lamanya, mereka harus mempertahankan hidup sebelum ditemukan Tim SAR.

"Jalur pendakian tertutup kabut, hingga saya bersama Zirli melenceng dari rute turun seharusnya. Dan perjalanan turun itu mengarahkan kami ke wilayah Blank 75 selama sehari perjalanan. Di sana, kami harus berusaha untuk menembus kawasan jurang curam itu dengan alat seadanya," papar Supyadi pada wartawan.

Saat tersesat, mereka juga sempat memberikan tanda berupa lima batu, hanya saja tertutup embun. Tanda lainnya adalah bekas bungkus makanan dan bekas perapian yang tidak berhasil ditemukan Tim SAR Gabungan.

Dihantam Gelombang Besar, Jalan Pantai Watu Godek Rusak Parah

Lebih lanjut diceritakannya, jurang dengan kedalaman sekitar 75 meter tersebut harus dituruni dengan memanfaatkan potongan bambu dan rotan. Potongan bambu dijadikan alat untuk merosot turun. Sedangkan, Zirli diikat badannya dengan rotan agar tidak sampai terjatuh.

Namun sebelum sampai dasar jurang, kedua pendaki ini terpeleset dan akhirnya terjatuh juga. Mereka sempat beberapa kali terjatuh, diantaranya di kawasan Blank 27 dan di Antrukan atau Patok B. Akibatnya, kaki Zirli terluka meski tidak terlalu serius. Sedangkan Supyadi sendiri juga mengalami luka retak di bagian kakinya namun tak dirasakan. Setelah memastikan kondisi mereka sanggup melanjutkan perjalanan, di benak Supyadi bersama Zirli adalah menemukan sumber mata air.


Sebab, perbekalan air yang mereka miliki juga telah habis. Beruntung, keduanya menemukan air terjun Gunung Boto, dengan sumber kehidupan itulah survivor pendaki ini bisa mempertahankan hidup hingga lima hari tersesat di Semeru. Untuk asupan makanan, mereka memanfaatkan apa yang ada di hutan seperti daun, buah, ares hingga rotan muda.

Supyadi bersama Zirli pun memilih bertahan di air terjun Gunung Boto tersebut, menunggu upaya evakuasi dari Tim SAR. Ini setelah mereka sempat mengirimkan SMS kepada keluarga dan sempat berkomunikasi meski sepatah dengan Tim SAR gabungan. Apalagi, di lokasi air terjun Gunung Boto, keduanya juga melihat adanya bekas perapian sehingga yakin lokasi tersebut pernah dijejaki sebelumnya.

Selama bertahan, Supyadi juga tetap berupaya mencari pertolongan dengan naik ke bukit kedua di Gunung Boto dan berkali-kali berteriak. Teriakan itulah yang akhirnya terdengar oleh Tim SAR gabungan.

"Pukul 21.00 WIB, kami sebenarnya telah mendengar suara teriakan survivor dari jarak dua bukit. Teriakan itu terdengar sekali saja. Namun, kami (Tim SAR gabungan, red) memutuskan beristirahat dan melanjutkan pencarian pukul 05.00 WIB keesokan harinya," kata Irwan Feri, Komandan Sru Basarnas.

Pencarian itu dilakukan dengan berteriak-teriak memanggil survivor. Sampai akhirnya, Supyadi dan Zirli Ayu Gita Safitri ditemukan berada di air terjun dengan ketinggian 1.500 mdpl. Saat ditemukan, kondisi kedua korban lemas. Namun pertemuan itu seolah menggugah semangat hidup Supyadi dan Zirli hingga mereka pun bersujud syukur.

"Secara psikologis, keduanya sempat depresi dan putus asa. Karena naik maupun turun mereka juga tidak bisa. Apalagi selama tersesat tidak ada titik terang pencarian. Secara fisik, mereka juga mengalami luka lecet di kakinya," papar Irwan Feri.

Namun begitu bertemu Tim SAR gabungan, kondisi psikologis keduanya mulai terbangun hingga selama evakuasi turun terlihat wajah yang ceria dan bahkan sempat beberapa kali foto selfi. (cw)

comments

0 Komentar:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright © 2016 Memo Timur Lumajang All Rights Reserved.
back to top