Pantau Situasi Laut, Dinas Kelautan Kerjasama Dengan Kelompok NelayanMemo Timur LumajangMemo Timur LumajangJujur, Cerdas, Berani
12 Mei 2016

Pantau Situasi Laut, Dinas Kelautan Kerjasama Dengan Kelompok Nelayan

Posted by on 12 Mei 2016

Lumajang, Memo Timur_Fenomena alam yang terjadi setiap saat, bisa menjadikan ombak di laut selatan sewaktu-waktu membesar. Ketika ombak besar dengan ketinggin mencapai di atas 2 meter, maka para nelayan yang menggunakan perahu tradisional (jukung) dilarang melaut. Hal itu dikawatirkan, para nelayan atau pencari ikan yang menggunakan perahu tradisional akan tenggelam ketika diterjang ombak besar.
Agus Widarto


Kepala Bidang (Kabid) Pegelolaan Sumber Daya Kelautan pada Kantor Dinas Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Lumajang, Agus Widarto mengatakan, biasanya dalam 1 tahun yang jumlahnya mencapai 365 hari, rata-rata mereka akan melaut sebanyak 220 hari. Itu artinya, dalam 1 bulan para nelayan itu akan melaut sebanyak 20 hari. Sedangkan untuk yang 10 hari, digunakan untuk memperbaiki perahu atau jaring ikan.

Untuk saat ini kata Agus Widarto, kondisi laut selatan sudah mulai tenang. Namun beberapa hari kemarin, sempat terjadi ombak besar yang diduga karena faktor alam atau Global Warming (pemanasan global) yang mengakibatkan ombak di laut tiba-tiba membesar hingga para nelayan takut untuk melaut.

Namun untuk memantau situasi yang terjadi di laut selatan, pihaknya telah berkordinasi dengan BPBD serta kelompok masyarakat nelayan untuk bersama-sama saling memantau situasi yang terjadi di lapangan. “Sehingga apabila terjadi ombak besar maupun fenomena alam lain yang terjadi di laut, maka para nelayan dihimbau untuk tidak melaut,” ujarnya.

Dinas Kelautan sendiri, kata Agus Widarto. Sudah membentuk kelompok masyarakat pengawas (Pokmawas) yang sudah berbadan hukum dengan beranggotakan para nelayan dan warga yang tinggal di pesisir pantai. Tujuannya adalah, untuk melakukan pengawasan dalam hal penangkapan, budidaya, pengelolaan ikan dan sebagainya.

6 OTD Datangi Zaenul, Korban Tewas Dibantai

Adapun tujuan pokoknya, untuk memgantisipasi manakala terjadi fenomena alam sehingga mereka bisa berakstifitas di darat tanpa melaut. Diakui, memang fenomena alam yang mengakibatkan ombak besar itu terjadi pada beberapa musim atau bulan tertentu.

Memasauki bulan Desember hingga akhir Maret, biasanya terjadi angin putting beliung serta ombak besar. Pada saat itulah, maka para nelayan dilarang melaut. “Biasanya kondisi ekstrim terjadi menjelang tahun baru hingga menjelang hari raya Imlek,” paparnya.


Untuk musim panen sekarang ini, yang paling banyak adalah Lobster. Akan tetapi, beberapa hari terakhir jumlahnya mulai berkurang karena diganti dengan ikan tongkol, kakap dan ikan layur. Biasanya, pergantian jenis ikan itu akan terjadi setiap 2 bulan sekali. “Namun untuk jenis ikan layur, tongkol dan jenis ikan kecil akan muncul sewaktu-waktu,” pungkasnya. (tri)

0 Komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2016 Memo Timur Lumajang All Rights Reserved.
back to top