Ad

Memo Timur Lumajang
21 June 2016

Remaja 14 Tahun, Setubuhi Bocah 4 Tahun

Posted by on 21 June 2016

MemoTimur - Kasus persetubuhan terhadap anak di bawah umur, kembali terjadi di Lumajang. Kali ini menimpa  Dahlia (4), warga Desa Wonosari, Kecamatan Tekung. Sabtu (18/6), sekitar pukul 09.30 WIB,  Dahlia disetubuhi oleh Anak Baru Gede (ABG), sebut saja Kuncung (14), yang tak lain adalah tetangganya sendiri.
Iptu Sajito


Akibat ulah bejatnya, beberapa jam kemudian Kuncung ditangkap petugas unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Lumajang, setelah dilaporkan orang  Dahlia ke Mapolres Lumajang.

KBO Reskrim Polres Lumajang, Iptu Sajito ketika dikonfirmasi Memo Timur, Senin (20/6), di kantornya membenarkan kejadian itu. “Pelakunya sudah kami tangkap, saat ini masih menjalani proses pemeriksaan dari penyidik unit PPA. Korbannya umur 4 tahun, pelakunya 14 tahun Mas,” tuturnya.

Menurut pengakuan pelaku, kejadian itu bermula pada Sabtu pagi, sekitar pukul 09.30 WIB, pada saat itu pelaku baru pulang merumput untuk pakan sapi rawatannya, kemudian duduk di teras rumahnya.

Berawal dari Pesta Miras, Berakhir pada Perkosaan

Tak berselang lama,  Dahlia keluar dari rumahnya kemudian melepas celana dalamnya dan kencing. Usai kencing,  Dahlia memanggil pelaku untuk memasangkan celana dalamnya. Pelaku pun terus mendatangi  Dahlia, kemudian memasangkan celana dalamnya.

Entah kemasukan setan apa, usai itu pelaku terus mengajak  Dahlia masuk ke dalam kamarnya. Di sana, pelaku mencabuli  Dahlia, kemudian menyetubuhinya. “Aksi bejat pelaku terbongkar,  Dahlia ngomong kalau digituin oleh pelaku,” ungkapnya.

Tak terima putrinya diperlakukan seperti itu, orang tua  Dahlia langsung melaporkan kasus itu ke unit PPA Polres Lumajang. Usai memproses laporan orang tua  Dahlia, pihaknya langsung mencari keberadaan pelaku dan menangkapnya.

Karena pelaku tergolong anak di bawah umur, maka pihaknya mengedepankan penyelesaian kasus ini dengan sistem diversi. Itupun jika pihak korban juga bersepakat untuk menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan.

“Misalkan terjadi kesepakatan, maka pihaknya akan membawa hasil kesepakatan itu, ke pengadilan guna mendapatkan penetapan diversi, sehingga pelaku bisa terlepas dari permasalahan hukum,” ungkapnya lagi.


Masih kata Sajito, jika yang terjadi justru sebaliknya alias keluarga korban tidak sepakat, maka proses hukum terhadap pelaku terus berlanjut ke meja hijau. “Pasal yang kami terapkan adalah pasal 81 UURI No 35 Tahun 2014 tentang perubahan UURI No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak ancaman hukuman paling lama 15 Tahun penjara,” pungkas KBO Reskrim Iptu Sajito.(cho)

comments

0 Komentar:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright © 2016 Memo Timur Lumajang All Rights Reserved.
back to top