1.500 Hektare Lahan Kedelai Alihfungsi ke PadiMemo Timur LumajangMemo Timur LumajangJujur, Cerdas, Berani
3 Agustus 2016

1.500 Hektare Lahan Kedelai Alihfungsi ke Padi

Posted by on 3 Agustus 2016

Memo Timur - Sekitar 1.500 hektare lahan kedelai milik petani di wilayah Lumajang dialihfungsikan untuk lahan padi. Hal ini dikarenakan hujan masih sering terjadi di musim kemarau pada tahun ini atau dikenal dengan fenomena lanina. Sedangkan kedelai akan tumbuh sempurna saat musim kemarau.
http://www.memolumajang.com/


“Sekitar 1500 hektare lahan yang seharusnya ditanami kedelai, terpaksa harus dialihkan untuk menanam komoditi padi,” kata Kepala Dinas Pertanian Lumajang, Ir. Paiman, Selasa (2/8).

Ia menambahkan, kalau dipaksakan, maka tanaman kedelai tidak akan optimal hasilnya dan rawan gagal panen. Ia menyebutkan, lahan kedelai yang dialihfungsikan diantaranya berada di wilayah Kecamatan Yosowilangun, Kunir, dan Tempeh. Tanpa Basa Basi, Ngateri Tusuk Jainul

“Rencananya tahun ini kedelai bisa maksimal penanamannya dan dibudidayakan di lahan seluas 2 ribu hektare, namun sekaranag hanya mampu ditanam di lahan seluas 500 hektare saja,” ucapnya.

Kondisi ini, kata Paiman, berdampak terhadap target produktivitas kedelai yang perhektarenya bisa menghasilkan rata-rata 1,5 ton. Target produktivitas kedelai pertahunnya, jika dikalkulasikan rata-rata hasil panen dengan luasan lahan 2.000 hektare maka bisa menghasilkan hingga 3 ribu ton," katanya. Pemulung Nekat Curi Motor Tetangga

Hanya saja, kata Paiman, alih tanam kedelai petani ini juga berdampak pada surplus dari sektor komoditi padi. Pasalnya, petani melakukan alih tanam ke padi sehingga produktivitas panennya tahun ini dipastikan lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.

Fenomena ini, sesuai dengan prakiraan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) dirasakan mulai Juli hingga September mendatang. Dengan kondisi ini, kata Paiaman tidak diupayakan untuk memacu petani untuk menanam kembali komoditi kedelai. Bupati Sebut ada 2 Sebab Gagal Raih Adipura 2016

Selain kedelai, kata Paiman, pola tanam komoditi pertanian lainnya di Lumajang juga ikut berubah akibat fenomena ini adalah cabai dan tomat. Saat ini petani belum banyak yang berani menanam kedua komoditi ini, karena curah hujan masih tinggi dan rawan gagal panen.

"Tapi untuk berapa luas lahan tanam cabai dan tomat, kita masih inventarisir di 21 Kecamatan. Termasuk dampaknya bagi pasar. Sementara ini, harga cabai turun karena banyaknya pasokan dari daerah lain," pungkasnya. (fit)

0 Komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2016 Memo Timur Lumajang All Rights Reserved.
back to top