Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

Lumajang, Motim - Kejaksaan Negeri Lumajang pada Selasa (24/10), sekitar pukul 10.00 WIB, melakukan pemusnahan terhadap barang bukti (BB) dari 128 perkara yang telah inkrah dan mempunyai kekutaan hukum tetap dari pengadilan Negeri Lumajang.
M. Taufik Hidayat, SH

Pemusnahan BB yang bertempat di halaman kantor Kejari dipimpin oleh Kejari Lumajang, dihadiri oleh Kabag Hukum Pemkab Lumajang, M. TaufiK Hidayat, SH, MH, perwakilan dari Polres Lumajang Kompol Sukadi, SH, perwakilan Pengadilan Negeri juga dari Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Lumajang.
  1. Ada 103 Kematian Bayi Sepanjang Tahun 2017
  2. Indah Masdar: Pilih Pensiun Dini dan Terjun ke Politik
  3. Dicuri, Sapi Ditemukan di Kandang Orang
  4. PDIP: As’at Malik Direstui Megawati, Tinggal Cari Wakilnya
“BB yang dimusnahkan itu terdiri dari perkara narkotika, obat keras, uang palsu, sajam termasuk BB tambang pasir,” tutur Kejari Lumajang, Teuku Muzafar, SH, MH kepada sejumlah media di sela-sela pemusnahan.

Dengan dilakukan pemusnahan ini, diharapkan bisa menekan dan mengurangi tingkat kejahatan, khususnya di wilayah Kabupaten Lumajang, sehingga tetap tercipta situasi dan kondisi aman dan kondusif.

Dari 128 perkara terbanyak adalah perkara narkotika. Perlu diketahui bahwa narkotika sudah masuk ke kalangan anak sekolah. “Dimana pun soal perkara terbanyak adalah narkotika,” ungkapnya.

Lanjut Kajari, di wilayah Lumajang juga marak perkara minuman oplosan. Kebanyakan pelakunya adalah anak-anak sekolah juga muda mudi yang putus sekolah. Mereka mengkonsumsi minuman oplosan, lantaran tidak mampu untuk membeli sabu, inex juga obat keras.

Meski minuman oplosan itu sangat berbahaya bagi keselamatannya, mereka nekat saja mengkonsumsinya. “Bagi mereka yang penting bisa nge-fly dan bisa nikmat sesaat. Padahal dampaknya bisa merusak jiwanya sendiri,” ungkapnya lagi.
  1. Motor Modifikasi Tidak Sesuai Spektek, Sasaran Operasi Satlantas
  2. Bobol Warung, ABG Babak Belur Dihakimi Warga
  3. PDIP: As’at Malik Direstui Megawati, Tinggal Cari Wakilnya
  4. Program RTLH, Ada 1.085 Penerima Bantuan dari APBD
Ditanya apakah masing-masing pelaku dari 128 perkara itu telah divonis maksimal, dengan tegas Kejari mengatakan vonis yang dijatuhkan sudah maksimal, para pelaku ada yang divonis 8 hingga 9 tahun. Vonis sengaja dimaksimalkan bertujuan agar punya dampak efek jera, sehingga tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Masih kata Teuku Muzafar, pihaknya juga telah menyidangkan kasus pembangunan ruang perawatan lantai III di RSUD dr. Haryoto dengan 4 tersangka. Pihaknya, juga telah menangani dugaan penyimpangan Dana Desa (DD) Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro.

“Tapi, masih belum ada tersangka Mas. Sebab masih dalam proses penyidikan umum. Keberhasilan ini semua tentunya tak lepas dari bantuan semua pihak,” pungkasnya.(cho)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: