Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

Lumajang, Motim - Kepala Desa Gedangmas, Kecamatan Randuagung, dilaporkan warga ke Kejaksaan Negeri Lumajang, tentang bedah rumah, pembangunan rabat beton, Bantuan Keuangan Khusus (BKK), Gerakan Membangun Masyarakat Sehat (Gerbang Mas) dan pembangunan kantor desa karena diduga terjadi penyimpangan.
Kurniawan Agung Prabowo, SH., MH

“Laporan warga Desa Gedangmas, Kecamatan Randuagung itu sudah kami terima dan sudah kami tangani, sekarang masuk pada tahap klarifikasi,” tutur Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Lumajang, Kurniawan Agung Prabowo, SH, MH ketika dikonfirmasi Memo Timur via ponselnya kemarin lusa.

Jika dalam proses klarifikasi ditemukan terjadinya penyimpangan, maka sudah tentu akan dinaikkan statusnya menjadi proses penyidikan. Untuk menentukan adanya dugaan penyimpangan terkait pengaduan warga tersebut, pihaknya butuh waktu 7 hingga 30 hari sejak diterimanya pengaduan masyarakat.

Waktu itu bisa diperpanjang, apabila memang diperlukan. Pihaknya sudah wawancara dengan beberapa orang terkait hal ini, guna mengumpulkan keterangan, baik berupa dokumen maupun foto dan lain sebagainya. “Itu bagian dari giat intelijen Mas,” tutur Kurniawan Agung Probowo via teleponnya.

Secara terpisah, Bu Hori alias Bu Asmat kepada Memo Timur mengatakan, dirinya salah satu dari tiga warga miskin Desa Gedangmas yang mendapat program bedah rumah dari pemerintah. Namun gagal dilaksanakan, lantaran dana bedah rumah sebesar 7,5 juta tak kunjung diserahkan oleh Kepala Desa (Kades) dengan alasan karena masih ada potongan sebesar 1,5 juta.

Ceritanya, sehari sebelum pencairan dana bedah rumah itu, petugas dari Kecamatan Randuagung, bernama Malik datang ke rumahnya dan menyampaikan apabila besok ada rapat pencairan dana bedah rumah. Kala itu dirinya bertanya, siapa yang harus datang, suami atau dirinya. “Kata Pak Malik, Pak Asmat saja. Pak Asmat suami saya Pak,” ujarnya.

Keesokan harinya, tepatnya tanggal 12 bulan September 2017, suami datang ke kantor kecamatan Randuagung terus menghadap petugas pencairan dana. Beberapa saat kemudian, dana itu cair sebesar 7,5 juta. “Kata suami, petugas ngomong jika dana 7,5 juta ini milik Pak Asmat tanpa ada potongan apapun,” ucapnya.

Dengan perasaan gembira kata suami, dia terus keluar berniat pulang. Baru beberapa meter menuju pintu keluar, tiba-tiba suami didatangi Abdul Ghofur, Kepala Dusun (Kasun) setempat dan meminta dana sebesar 7,5 juta itu dengan alasan mau dikumpulkan. “Kata suami, uang itu terus diberikan ke Abdul Ghofur, lalu pulang,” jelasnya.

Beberapa hari kemudian, Abdul Ghofur datang ke rumah bersama Kepala Desa. Dengan perasaan gembira, suami bertanya mau belanja material bangunan. Kades menjawab ya. Suami pun langsung mencatat barang apa saja yang hendak dibelinya. Kades berkata ada potongan sebesar 1,5 juta.

“Saya bertanya kepada Pak Kades, kenapa kok ada potongan. Harusnya Pak Inggi membantu, kok malah mau motong. Pak inggi menjawab, kapan-kapan ae. Lagi pula apa yang hendak disumbangkan. Gitu jawabnya lalu pulang Pak,” jelasnya lagi.

Karena ditunggu tak juga ada kepastian, hingga 3 hari kemudian, suami menemui Abdul Ghofur dan menyampaikan agar potongannya jangan terlalu banyak. Dia menjawab akan disampaikan ke Kades. Sebab kata dia, uang bedah rumah itu dipegang Kades.

Semenjak suami menemui Abdul Ghofur, terus tidak ada kabar lanjutan terkait program bedah rumah itu. “Saya sudah tua, buat apa berkata bohong. Kemarin, saat diperiksa di kantor kejaksaan, saya jawab apa adanya,” terang Bu Hori yang mengaku kecewa atas sikap Kades.

Secara terpisah, Sono menambahkan, di Desa Gedangmas bukan hanya soal bedah rumah. Tetapi masih banyak dana bantuan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Salah satu contohnya adalah dana Bantuan Khusus Keuangan (BKK) dari salah satu partai tahun 2014-2015 sebesar 90 juta.

Dimana 50 juta untuk pembangunan pipanisasi di Dusun Krajan dengan ketua Timlak Habib Ali. Tapi, pengerjaannya tidak tuntas, diduga dananya sudah habis lebih dulu. Sedang sisa 40 juta untuk pemasangan paving di Dusun Gedangmas Tengah dengan ketua Timlak H. Misto. Namun, pemasangan paving itu tidak ada alias fiktif.

“Jangankan pegang dananya, wong urun rembuk saat dijadikan timlak, Aba Misto mengaku tidak tahu,” ungkapnya. Anehnya, setelah diadukan ke Kejaksaan Negeri Lumajang pembangunan yang sempat mangkrak dikebut.

Lanjut Sono, di desa Gedangmas terdapat 7 kelompok Gerbang Mas, dimana masing-masing kelompok mendapat dana pembinaan sebesar 5 juta yang bersumber dari Alokasi Dana Desa. Apa yang terjadi, setiap kelompok hanya mendapat 2 juta, paling banyak 2,5 juta tidak sesuai dengan laporannya.

Masih kata Sono, masih banyak lagi kasus di Desa Gedangmas itu, seperti soal tambal sulam jalan dengan anggaran 100 juta, pengerasan jalan sebesar 100 juta, proses pembangunannya juga dikerjakan. Tapi ujung-ujungnya terbengkalai dan bisa dicroscek.

Lagi, soal pembangunan kantor Desa Gedangmas. Dimana pemerintah Desa Gedangmas membeli sebidang tanah seluas kurang lebih 1.600 meter bermaksud memperluas kantor Desa Gedangmas menggunakan Dana Desa.

Informasinya, tanah seluas 1.600 meter itu dipecah menjadi dua dengan rincian 1 bidang seluas 700 meter diaktakan atas nama kantor Desa Gedangmas. Sedang sisanya seluas 900 meter itu diaktakan atas nama Kades. “Kata salah satu staf Desa begitu Mas,” ungkapnya lagi.

Meski kasus ini sudah ditangani Intelijen Kejaksaan Negeri Lumajang, oleh warga juga dilaporkan ke Kejaksaan Tinggi Jawa Timur serta Kejaksaan Agung di Jakarta.

“Kenapa saya bersama masyarakat hingga melapor ke Kejati dan Kejagung, agar Intelijen Kejaksaan Negeri Lumajang tidak masuk angin dalam menangani kasus ini. Biar mendapat pengawasan juga. Apalagi kasus ini berkaitan dengan uang Negara Mas,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala Desa Gedangmas, Kecamatan Randuagung, Suyud ketika dikonfirmasi via teleponnya enggan memberikan keterangan terkait pengaduan masyarakat yang kini masih ditangani oleh intelijen Kejaksaan Negeri Lumajang.(cho)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: