Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

Komisi A dan Komisi B DPRD Bojonegoro saat melakukan studi banding ke Pemkab Lumajang
Komisi A dan Komisi B DPRD Bojonegoro saat melakukan studi banding ke Pemkab Lumajang
Lumajang, Motim - Komisi A dan Komisi B DPRD Bojonegoro melakukan study banding ke Pemerintah Kabupeten Lumajang. Kedatangan mereka untuk belajar pengelolahan aset dan Usaha Kecil Menengah (UKM).

Rombongan anggota DPRD Bojonoegoro ini diterima oleh Asisten Pemerintahan Setda Lumajang, Drs. Slamet Supriyono, M.Si serta Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Lumajang, Ir. Agus Widarto, M.M di Ruang Narariya Kirana, Senin (29/1).

Slamet Supriyono pada kesempatan itu menyampaikan, pengelolaan aset harus dilakukan maksimal. Karena hal ini menjadi perhatian khusus dari ketika ada pemeriksaan dari Badan Pemeriksa Keuangan.

“Sehingga menjadi perhatian ekstra para pengelola sehingga tidak terjadi permasalahan di kemudian hari, khususnya terkait aset tanah yang dimiliki pemerintah,” katanya.

Sedangkan mengenai UKM, Agus Widarto menjelaskan, bahwa Pemkab Lumajang bertekad untuk mengembangkan semua UKM. Pengembangannya bisa dengan memanfaatkan 52 destinasi wisata yang ada saat ini.

“Hal itu diharapkan mampu menjadi penunjang meningkatnya sektor UKM di Lumajang. Namun hal itu dirasa belum cukup, karena Pemkab Lumajang juga berupaya dengan cara lainnya seperti mengikuti pameran,” jelasnya.

Di kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi A DPRD Bojonegoro, Anam Warsito menyampaikan, permasalahan aset nampaknya memang menjadi suatu permasalahan yang dialami oleh beberapa daerah.

“Contohnya, selama ini, masih ditemukan bangunan milik pemerintah yang dibangun di tanah warga,” terangnya.

Sedangkan dari Komisi B DPRD Bojonegoro, Sigit Kusharyanto mengatakan Lumajang merupakan daerah yang pas untuk dijadikan sumber referensi dalam pengelolaan UKM. Khususnya UKM yang berbasis agro di Lumajang sudah cukup bagus.

UKM yang ada di Lumajang, menurutnya banyak sekali produk yang dihasilkan. Salah satu yang terkenal Kambing Etawa Senduro, Pisang Mas Kirana, Salak Pronojiwo dan juga tidak ketinggalan pengolahan kripik.

Jika dibandingkan dengan Bojonegoro, kata Sigit, masih relatif baru bangkit. Khusunya industri yang berbahan agro. Untuk itu pihaknya ingin belajar jauh terkait dengan peran pemerintah dalam pengelolaan ekonomi. Untuk meciptakan sentra industri kecil menengah yang berbasis agro.

“Serta cara pemerintah menjalin kemitraan untuk mekanisme pasar menjamin produksi secara berkelanjutan,” pungkasnya. (fit)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: