Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

» » » » Partisipasi Pemilih Pilkada 2008 dan 2013 Rendah

Di 2018 Ditarget Capai 80 Persen

Lumajang, Motim - Partisipasi pemilih pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Lumajang di dua edisi terakhir dinilai rendah. Seperti diketahui pada Pilkada 2008 dan 2013 hanya 70 persen pemilih yang menggunakan hak suaranya. Di tahun ini, diharapkan partisipasi masyarakat lebih tinggi, ditarget capai 80 persen.
Komisi Pemilihan Umum

Dari data di Komisi Pemilihan Umum Daerah (KUPD) Lumajang, pada Pilkada 2008, ada 800 ribu lebih pemilik suara. Dari jumlah itu, 70,62 persen atau 565.340 orang yang menggunakan hak suaranya. Sisanya, 29,38 persen atau 235.198 orang tidak memilih.

Sedangkan pada Pilkada 2013, partisipasi pemilih tak jauh beda dari edisi sebelumnya. Jumlah pemilih yang menggunakan haknya naik tipis jadi 70,87 persen atau 581.045 orang. Sisanya, 29,13 persen atau 238.627 orang tidak menggunakan hak suaranya.

Divisi Sumber Daya Manusia dan Partisipasi Masyarakat KPUD Lumajang, Muhammad Ridhol Mujib, SE menyampaikan, pada Pilkada 2018 ditarget ada kenaikan signifikan partisipasi pemilih. “Kita target lebih dari 80 persen,” kata dia, Senin (1/1).

Ada dua cara yang digunakan KPUD Lumajang untuk mencapai target itu. Pertama, melalui sosialisasi berbasis keluarga. Maksudnya, bagi anggota keluarga yang paham dengan pelaksanaan Pilkada, bisa menjelaskan kepada keluarganya. “Jangan sampai keluarga tidak tahu,” ungkap Edo, panggilan akrabnya.

Apalagi bagi anggota Panitia Pelaksana Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemnungutan Suara (PPS), harus mampu memberikan pemahaman pada keluarga dan tetangga. Jangan sampai mereka tidak menyalurkan hak suaranya. “Karena di keluarga ada interaksi kecil, jadi perlu ada sosialisasi juga,” ucapnya saat ditemui di kantornya.

Termasuk Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP) juga memiliki tugas tambahan. Saat melakukan pemutakhiran dari rumah ke rumah. Mereka kalau bisa ketemu langsung dengan yang bersangkutan sehingga ada interaksi untuk sosialisasi. “Karena kita nilai masyarakat masih banyak yang apatis,” ujarnya pada sejumlah wartawan.

Selain itu, saat membagikan surat pemberitahuan atau C6 pada pemilih, petugas juga diharapkan kembali memberikan penjelasan atau simulasi pencoblosan. “Karena pasti ada yang masih tidak paham,” pungkas Edo.

Kemudian cara kedua, yakni dengan menggunakan metode pendekatan netizen atau pengguna internet. Karena kata Edo masyarakat sudah tidak asing dengan internet. Utamanya media sosial, sehingga dengan sosialisasi melaui media sosial diyakini menjadi lebih befektif dan efesien.

Semua giat dari KPUD Lumajang dan informasi sudah disampaikan melalui media sosial dan website resmi yang ada. “Jadi selain melalui media massa dan papan pengumuman yang ada, kita sampaikan di dunia maya juga,” tegas Edo.

Lanjutnya, dari evaluasi yang sudah dilakukan oleh KPUD Lumajang, tingkat kesadaran yang dinilai paling rendah adalah di wilayah pinggiran. Di wilayah yang sulit diakses. “Seperti di daerah pinggiran dan pegunungan, itu yang mendapat catatan. Tingkat partisipasi masih rendah,” pungkasnya. (fit)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: