Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

Sampul buku biografi As’at Malik
Sampul buku biografi As’at Malik
“Jangan jadi bupati. Berat. Kau gak akan kuat. Biar Pak As’at.” Sedikit mengadopsi percakapan antara Dilan dan Milea yang lagi ngetrend. Mungkin ini ungkapan yang pas untuk Drs.H. As’at Malik, M.Ag. Menjadi Bupati Lumajang yang ke-14 ada sejumlah ujian berat yang harus Ia hadapi. Utamanya di awal kepemimpinannya untuk periode 2015-2018 setelah meneruskan estafet kepemimpinan dari H. Sjahrazad Masdar, MA yang tutup usia (semoga Allah melapangkan kuburnya).

Namun ujian berat yang dialami tidak membuatnya menyerah atau banting setir. Di bawah cibiran banyak orang, Ia justru mampu comeback. Menyelesaikan ujian dan permasalahan yang yang ada di Lumajang. Bahkan di tangan dinginnya, Lumajang berhasil menyabet 70 lebih penghargaan sepanjang 2017. Dan 21 diantaranya adalah penghargaan tingkat nasional.

Bagiamana tidak berat jadi bupati kala itu. Baru beberapa bulan sejak dilantik pada 5 Maret 2015 ujian berat sudah menderanya. Kasus tambang pasir pecah usai kematian Salim Kancil. Banyak yang menuduh dirinya sebagai orang paling bertanggungjawab atas hal ini. Padahal sebelumnya, semasa menjabat wakil bupati, Ia tidak banyak dilibatkan dalam urusan pengelolaan pasir.

Puncaknya ketika terbengong dan menjadi bulan-bulanan publik waktu tampil dalam sebuah acara televisi yang membahas kasus tersebut di salah satu stasiun televisi swasta nasional. Ia disalahkan, bahkan dinilai tidak becus jadi bupati. Bupati As’at sebenarnya sudah berniat tidak hadir dalam acara ini. Mengingat dirinya minim data soal tambang pasir.

“Dik, aku hadir. Padahal aku tidak bawa bahan apa-apa,” katanya pada sang istri, Hj. Tutuk, seperti yang tertulis dalam buku biografi Drs. KH. As’at, M.Ag: Pengabdian Tiada Henti yang diterbitkan oleh Dinas Kearsiapan dan Perpustakaan Lumajang. “Tidak usah Bi, nanti sampeyan malah kena bully,” balas Hj. Tutuk.

Namun bupati gentleman mengambil tanggungjawab meski resiko dihadapi. Dalam acara itu juga dihadiri Ketua DPRD Lumajang, H. Agus Wicaksono, S.Sos dan Kapolres Lumajang, AKBP Fadly Munzir Ismail kala itu.

Bupati memandang kasus ini sebagai bagian dari cobaan hidup yang kemudian bisa memberikan hikmah besar. Sama seperti yang dikatakan saudaranya pada dirinya. “Itu konsekuensi ente wes, oleh cobaan gedhe koyok ngono,” ucap saudaranya.

Benar saja, pelan tapi pasti penataan tambang pasir sudah mulai terlihat membaik sejak itu. Pemasukan pajak meningkat drastis dari tahun-tahun sebelumnya. Di 2013 dan 2014 Pendapat Asli Daerah (PAD) dari pasir hanya Rp 75 juta. Setelah itu 2015 meningkat jadi Rp 1,139 miliar. Pada 2016 melonjak lagi jadi Rp 6,61 miliar.

Awal Jadi Wakil Bupati
Dalam buku ini juga diceritakan awal As’at Malik menjadi wakil bupati mendampingi mendiang Sjahrazad pada periode pertama 2008-2013. Ia sebenarnya tidak banyak tahu mengenai birokrasi. Bahkan Ia mengaku syok dengan tugas baru yang diemban dan tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

“Saya sama sekali tidak membayangkan bisa jadi wakil bupati. Jadi guru bagi saya sudah di luar dugaan, apalagi wakil bupati,” katanya.

Ketidak pahaman birokrasi bukan masalah bagi As’at. Ia selalu belajar dan dibimbing oleh Pak Masdar yang sudah paham betul dan berpengalaman di birokrasi. “Kalau sebelumnya menjadi kepala dinas atau sekda mungkin sudah tahu lika-liku birokrasi. Pak Sjahrazad yang mengkader saya,” terangnya.

Kemampuan ayah 5 anak ini dalam beradaptasi dengan situasi baru memang tidak perlu diragukan. Ia terbilang sukses menjalankan perannya menjadi wabub kala itu. Terbukti, di periode kedua, Ia masih dipercaya untuk mendampingi Sjahrazad lagi dan terpilih sebagai bupati dan wakil bupati untuk 2013-2018. Meski takdir kemudian berkata lain. Sjahrazad jatuh sakit, hingga kemudian bupati kebanggaan masyarakat Lumajang itu meninggal dunia pada 23 Januari 2015. Secara otomatis As’at yang meneruskan kepemimpinannya di sisa periode.

Jadi bupati, As’at tidak pernah meninggalkan ciri khasnya yang sebagai seorang kyai dan mantan guru. Baju batik dan songkok di kepalanya tetap jadi identitas. Ia juga rutin menjadi khotib Jumat di Masjid Agung Anas Mahfudz. Masjid terbesar di Lumajang.

Lahir dari Keluarga Santri.
As’at Malik yang akan maju dalam Pilkada Lumajang, terlahir di keluarga santri. Ia adalah putra daerah. Lahir di Desa Dawuhan Lor, Kecamatan Sukodono pada 2 Januari 1964 dari pasangan KH. Abdul Malik dan Hj. Siti Rahma. Ayahnya memiliki pondok pesantren dan Ia sejak kecil sudah belajar agama di sana. Dulu dikenal Ponpes Duren, kini menjadi Ponpes Al-Maliki. Didirikan tahun 1970 dan kini dikelolah oleh dirinya.

Kendati kedua orangtua As’at selalu mengharuskan anaknya untuk belajar ilmu agama, namun juga menyekolahkan di lembaga pendidikan formal. As’at menempuh pendidikan di SDN 1 Dawuhan Lor, SMPN 3 Lumajang (sekarang SMPN 1 Sukodono), MAN Lumajang. Kemudian Ia meneruskan S1 di IKIP Malang dan menyelesaikan S2 di Universitas Islam Lamongan.

Awal karirnya, lulus dari IKIP Malang pada 1987 mengajar sebagai guru honorer di SMA Muhammadiyah Lumajang. Tak lama kemudian, Ia pindah mengajar di MAN Lumajang yang merupakan almamaternya. Tetap sebagai guru honorer juga. Beberapa tahun kemudian, Ia lolos dalam seleksi PNS dan ditempatkan di SMAN 2 Lumajang.

Namun siapa sangka, As’at meski jadi PNS kala itu, untuk menambah penghasilan harus bejualan sosis dan ternak bebek. Bahkan saat dirinya sudah ditetapkan sebagai calon bupati kala itu, masih belum meninggalkan aktifitasnya berjualan sosis. Habis kampanye bersama Pak Masdar, Ia masih kembali berjualan sosis.

Kini di 2018, Usai mendapatkan cuti untuk kampanye, As’at Malik kemudian kembali tinggal di rumah pribadinya di Desa Karangsari, Kecamatan Sukodono. Bersama Bang Thoriq, Ia siap kembali memimpin Lumajang untuk 5 tahun kedepan. (fit)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: