Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

Salah satu karya dari Ruwet TV
Salah satu karya dari Ruwet TV
Lumajang, Motim - Komunitas Film di Lumajang kian hari makin menunjukkan eksistensinya melalui banyak produk yang terbilang lumayan untuk skala lokal. Namun untuk perkembangan kedepan sebagai industri masih belum menjanjikan. Hal ini dikarenakan mereka belum ada dukungan penuh dari pihak-pihak yang seharusnya bisa menyokong mereka.

Sebagai wadah untuk menampung karya mereka, di Lumajang masih terbilang minim. Namun hal itu bukan menjadikan mereka patah semangat. Mereka bisa eksis melalui bantuan media sosial. Terutama Youtube, sebagai penampung karya mereka agar bisa diakses khalayak luas.

Lanang Chanafi, salah satu pentolan komunitas film yang ingin membesarkan industri kreatif film di Lumajang. Dia mengungkapkan espektasi anak-anak film Lumajang tergolong tinggi. Di Lumajang kata dia banyak bermunculan komunitas film.

Tapi ia menyayangkan, karena masih belum tersentuh pemerintah. Agar karya mereka memiliki wadah dan lebih eksis lagi. “Inginnya ada wadah yang merangkul komunitas ini. Wadah skala besar belum, kan belum ada,” ungkapnya.

Padahal selama ini banyak karya yang memilik respon luar biasa. Misalnya ketika karya film anak Lumajang berjudul “Sahabat” diputar, respon anak-anak muda sangat bagus. Banyak yang suka dengan mengangkat kulture Lumajang dan menginspirasi.

Jumlah komunitas film juga tidak sedikit di Lumajang. Diantaranya ada Lumajang Film Comunity, Pohong Cinema, Slupo Film, Cantas Candipuro, Ruwet TV, R Pictures, Istana Pictures.

Terkait kontribusi pemerintah sendiri, dia mengaku masih minim sentuhan. Semua independen sekali, padahal outputnya banyak laku di luar. Ada yang menang festival di Jogja tahun 2016. Bahkan ada juga yang melejit di Australia merebut medali tahun 2010an.

Titi Wulandari, aktivis komunitas film ini juga mengakui kendalanya. “Kita tidak punya TV lokal pemerintah sendiri, kalau ada kayak Bali TV kan enak. Bisa lebih kreatif dan produktif, juga menjanjikan masa depan mereka yang bikin,” tambahnya.

Ada sebenarnya Lumajang Vision yang mensupport. Sebenarnya bagus dan memberi ruang. Tetapi hanya memberi ruang untuk penayangan saja. Padahal, espektasinya ingin masuk industri film Jawa Timuran. Masyarakat juga ingin terangkat dalam kisah-kisah di film. “Juga pingin ditayangin di stasiun TV,” ujarnya.

Kondisi lain diperparah dengan tidak adanya gedung bioskop di Lumajang. Hal itu juga berpengaruh. Seandainya ada, akan lebih enak. Bisa diputar dan ditonton bareng-bareng warga Lumajang.

“Berharap pemerintah lebih mensupport. Karena geliatnya sudah lumayan. Industri kreatif ini layak untuk jadi panggung mengenalkan daerah dari film,” ujarnya. (fit)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: