Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan


Lumajang, Motim - Pelaksanaan Imunisasi Difteri tahap satu dilakukan selama Februari ini. Semua petugas kesehatan di bawah naungan Dinas Kesehatan dikerahkan untuk mensukseskan program nasional tersebut. Untuk mencakup semua anak usia 1-19 yang akan diimunisasi, sistem jemput bola kembali dilakukan.

Petugas secara terjadwal akan mengunjungi sekolah-sekolah secara bergantian. Dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat. Dengan ini tentunya memudahkan peserta imunisasi tanpa harus libur sekolah.

Dari rentan usia 1-19 tahun peserta imunisasi, diperkirakan ada 200 ribu orang lebih. Pelaksanaan imunisasi tidak harus meminta izin kepada orang tua. Namun hanya sebatas pemberitahuan pelaksanaan saja.

“Karena ini program dari pemerintah, cukup pemberitahuan saja,” kata Kepala Dinas Kesehatan Lumajang, dr. Triworo Setyowati pada Memo Timur, Senin (5/2).

Meski begitu, peserta imunisasi harus dipastikan dalam kondisi fisik yang fit. Mereka harus benar-benar sehat saat mendapat suntik imunisasi. Sebelumnya peserta juga diharuskan makan terlebih dahulu.

“Kalau sakit jangan dulu, sebelum imunisasi jangan lupa sarapan terlebih dahulu,” ujar Triworo.

Jika petugas masih ragu untuk menetapkan apakah anak itu sehat atau tidak, bisa ditunda dulu. Bisa dikonsultasikan pada rumah sakit. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Kalau ada yang ditunda bisa imunisasi di rumah sakit,” katanya.

Selain pelaksanaan di lembaga sekolah, semua Posyandu juga akan digunakan sebagai pos imunisasi. Di Lumajang ada 3.200 lebih Posyandu yang akan digunakan. “Tetap untuk petugasnya dari kita, karena suntik tidak bisa dilakukan oleh kader,” jelasnya.

Pelaksanaan imunisasi sendiri akan dilaksanakan tiga tahap dalam setahun. Setiap anak mendapat imunisasi tiga kali. Yakni pada Februari, Juli, dan November. Imunisasi harus dilaksanakan, mengingat Jawa Timur sudah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) Wabah Difteri. Kejadian Difteri di Lumajang juga cukup banyak. Di tahun 2017 dan 2018 total ada 15 kasus. (fit)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: