Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

» » » » » Melihat Runtuhan Kerajaan Lamajang Tigang Juru, Sisa Kejayaan yang Perlahan Terlupakan

Reruntuhan bangunan di Situs Biting
Reruntuhan bangunan di Situs Biting
Lumajang, Motim - Dusun Biting Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono terletak tak jauh dari pusat Kota Lumajang. Jaraknya sekitar 5 kilometer. Dusun tersebut mudah dijangkau. Ada yang istimewa di sana. Yakni terdapat sisa bangunan yang merupakan peninggalan Kerajaan Lamajang Tigang Juru yang berdiri pada 1294.

Sisa bangunan itu disebut Situs Biting. Kawasan Situs Biting sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Ada sejumlah bangunan yang masih tersisa. Lebih tepatnya runtuhan bangunan. Orang awam mungkin tidak tahu jika itu bekas bangunan bersejarah. Karena yang tersisa adalah tumpukan bata. Tersusun dengan teknologi pembangunan pada kala itu. Tanpa perekat dari semen.

Situs yang ada merupakan bekas benteng atau pusat pemerintahan yang dimiliki Kerajaan Lamajang Tigang Juru yang dipimpin oleh Arya Wiraraja. Karena Lumajang sebagai ibukota dari kerajaan yang memiliki wilayah di Madura dan Tapal Kuda (Probolinggo hingga Banyuwangi). Luas kawasan itu sekitar 135 hektare.

Sejumlah peninggalan yang masih tersisa adalah menara pengawas, blok jeding atau taman sari, gumuk atau candi, serta pondasi yang mengelilingi benteng tersebut. Pondasi itu tidak terlihat, karena sudah terkubur. Sementara gumuk atau candi juga di atasnya sudah menjadi lahan yang ditanami sengon.

Untuk menara pengawas, sebenarnya ada enam. Namun runtuhan yang tersisa ada dua. Sisanya, sama, diuruk dengan tanah oleh warga setempat untuk dijadikan lahan. “Ada yang melakukan pengurukan, karena petani tidak tahu,” kata Mansur Hidayat, sejarawan asal Lumajang. Tergabung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (MPPM Timur), Mansur dan kawan-kawan sudah lama melakukan advokasi pelestarian Situs Biting.

Kondisi Situs Biting memang nampak memprihatinkan. Sisa-sisa kejayaan Lamajang Tigang Juru itu seakan perlahan mulai terlupakan. Tidak ada perhatian serius dari pemerintah. Baik dari tingkat kabupaten, propinsi, maupun pusat. Menyebut, tidak ada anggaran pelesatarian dari pemerintah yang dikucurkan. “Belum ada dana untuk pelestarian,” katanya.

Kondisi seperti ini dibiarkan berangsur lama. Bahkan pada Sabtu (24/2), malam, bekas bangunan menara pengawas yang tidak jauh dari pemukiman warga itu roboh. Hal ini disebabkan, lokasinya yang mepet sungai, sering terkikis air saat meluap. Informasi dari warga sekitar sempat mendengar suara robohan yang cukup keras. Bangunan ini sebelumnya cukup tinggi, dan kini tersisa sekitar 3 meter. Untuk menjangkau lokasi ini, roda empat tidak bisa masuk. Harus berjalan kaki atau dengan roda dua, karena sudah ada lahan pertanian di sekitarnya.

Untuk menangani hal ini, harus mendatangkan arkeolog dari propinsi atau dari Situs Triwulan di Mojokerto. Untuk melakukan rekonstruksi ulang. Diperkirakan dalam waktu dekat mereka akan datang ke Lumajang. “Karena ini situs yang dimiliki oleh Jawa Timur, jadi dari pihak propinsi yang akan menangani. Yang merawat bisa Trowulan,” ujar Mansur.

Jika dimaksimalkan, mungkin saja Situs Biting bisa sama seperti Candi Borobudur dan Situs Trowulan. Situs berusia 700 tahun lebih itu bisa menjadi destinasi wisata yang bagus atau juga pusat studi sejarah. “Itu tergantung pemerintah,” ucapnya. Mansur berharap pemerintah bisa peduli dengan kondisi ini.

Selama ini meskipun kawasan ini ditetapkan sebagai cagar budaya dan dilindungi, namun ternyata masih ada pengrusakan yang terjadi. Bahkan ada pembangunan perumahan di kawasan sana. “Ini memang dilindungi, tapi susah, kita tidak bisa berhadapan dengan masyarakat,” kata Mansur. Jadi butuh pemahaman dan edukasi bagi masyarakat sekitar terkait pentingnya aset yang ada.

Lamajang Tigang Juru disebut-sebut sebagai saudara kembar Kerajaan Majapahit. Karena kala itu, Raden Wijaya bersama Arya Wiraja telah bersepakat, ketika berhasil menguasai wilayah kekuasaan Kerajaan Singosari, akan membagi wilayah menjadi dua. Wilayah barat untuk Raden Wijaya dan menjadi Kerajaan Majapahit sekaligus Ia rajanya. Sementara wilayah Timur untuk Arya Wiraraja dan menjadi Lamajang Tigang Juru dan Ia rajanya.

“Raden Wijaya meminta tolong kepada Arya Wiraraja yang kala itu menjadi Adipati Sumenep untuk menyerang Singaraja,” terang Mansur. Sejarah ini secara lengkap sudah Ia tulis dalam bukunya yang berjudul Lamajang Tigang Juru.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Lumajang, dr. Buntaran sudah datang ke lokasi untuk melihat kondisi Situs Biting, Senin (26/2), pagi. Di kesempatan itu juga hadir Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Deni Rohman dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang, Hadi Prayitno.

Buntaran menyampaikan, untuk menangani hal ini, Ia akan melakukan koordinasi dengan propinsi. Agar ada penanganan sungai dekat situs serta penanganan langsung situs tersebut. Arkeolog juga bakal didatangkan. “Agar kembali utuh meskipun tidak kembali asal,” ucapnya.

Hal ini perlu dilakukan, kata dia, karena ini cagar budaya dan merupakan bangunan yang memiliki sejarah besar. “Kalau diuangkan tidak ada harganya. Karena sangat mahal,” jelasnya. “Ini juga daerah raja, ada keraton. Ini kerajaan besar,” imbuhnya.

Lanjutnya, Pemerintah Kabupaten Lumajang kedepan berencana menganggarkan dana untuk pelestarian situs ini. Karena sementara Situs Biting tidak masuk program prioritas. Rencananya anggaran bisa mencapai Rp 1 miliar per tahun. “Jadi kalau kemarin kita agak kesulitan untuk anggaran. Ini belum prioritas untuk budaya,” pungkasnya. (fit)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: