Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

» » » » Gerdu Sejiwa, Komunitas Peduli ODGJ, Sudah Tangani Ratusan ODGJ di Pronojiwo

Ustadz Sulianto, anggota sekaligus penggerak Gerdu Sejiwa
Ustadz Sulianto, anggota sekaligus penggerak Gerdu Sejiwa
Lumajang, Motim - Jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Lumajang memang masih cukup banyak. Salah satunya di Kecamatan Pronojiwo. Dari pendataan yang dilakukan oleh Komunitas Gerdu Sejiwa (Gerakan Terpadu Kesehatan Jiwa), ada 120 ODGJ di sana.

Tak cukup hanya didata, mereka juga bergerak untuk menyembuhkan para ODGJ. Dananya dari para anggota yang tergabung dalam komunitas ini. Mereka dari berbagai kalangan, ada dari kepolisian, TNI, ASN, hingga tokoh agama.

Upaya mereka untuk menyembuhkan para ODGJ tidak perlu diragukan, bahkan mereka membebaskan para ODGJ yang dipasung dan membawanya ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Malang.

“Kita musyawarah dulu dengan pihak keluarga. Agar mereka paham dan menginzinkan untuk kita bawa ke RSJ,” kata Ustadz Sulianto, anggota sekaligus penggerak Gerdu Sejiwa.

Sampai saat ini sudah ada sekitar 20 ODGJ yang dibawa ke RSJ di Malang sejak 2016. Semua biaya ditanggung oleh komunitas. Pihak keluarga juga tidak diminta biaya sepeserpun.

“Keluarga tidak kita bebankan, entah itu untuk obat atau transport ke sana,” kata dia.

Sulianto yang juga merupakan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Pronojiwo, mengatakan, upaya ini dilakukan sesuai dengan tugas yang diemban dirinya. Karena di Jawa Timur ODGJ harus bebas dari pasung.

“Bahkan kita menemukan ODGJ yang dipasung di hutan. Tinggal di gubuk yang tidak layak,” kata Sulianto yang juga anggota Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Pronojiwo.

Memang tidak semua ODGJ harus dibawa ke RSJ. Jika bisa ditangani di rumah, maka dilakukan di rumah saja. Karena untuk penyembuhan ODGJ, bukan hanya dari obat saja. Namun juga lingkungan di sekitarnya.

“Obat hanya dapat menyembuhkan sampai 30 persen saja, sisanya lingkungan di sekitar dan keluarga,” kata dia.

Untuk itu, Ia meminta kepada keluarga yang memiliki anggota keluarga ODGJ, agar sesering mungkin berkomunikasi dengannya. “Minimal mengajak bicara sampai 20 kali dalam sehari. Dan jangan sampai dianggap dia itu gila atau stres,” katanya.

Karena ketika masih menganggap ODGJ ini gila, akan terus terekam dalam pikiran mereka. Sehingga lebih akut gangguan jiwanya. “Karena daya ingat mereka bisa mencapai sepuluh kali lipat,” tambahnya.

Sedangkan para ODGJ yang dirawat di RSJ paling lama 60 hari. Setelah itu dibawa pulang dan mendapatkan perawatan di rumah. Namun jika masih parah, akan dibawa lagi ke sana. “Namun rata-rata mereka dari RSJ sudah mulai membaik. Tinggal pengobatan dan penanganan lanjutan di rumah,” pungkasnya. (fit)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: