Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

Lumajang, Motin - Drs. As'at Malik, M.Ag sebagai calon bupati petahana, kali ini berbicara potensi ekonomi di Lumajang. Ia juga akan kembali memaksimalkan pengelolahan potensi besar yang ada di Lumajang jika terpilih kembali menjadi bupati di periode 2018-2023.

Drs. As’at Malik, M.Ag
Drs. As’at Malik, M.Ag
Untuk pertumbuhan ekonomi Lumajang, menurutnya bukan hanya bergantung pada satu sektor saja yang akan digarap. Namun semua sektor tentunya. Termasuk untuk pendukungnya, semuanya harus diperhatikan. “Harus ada investasi, SDM, teknologi, maupun anggaran yang memadahi harus diperhatikan,” katanya.

Namun berbicara pertumbuhan ekonomi 2017, memang masih belum dikatakan menggembirakan. Karena masih dibawah 5 persen. Tetapi ada data menarik lainnya. Seperti tingkat penggangguran terbuka yang rendah. Lumajang di urutan kedua paling rendah di Jatim. “Ini modal bagus,” katanya.

Sementara masalah ketimpangan, Lumajang menduduki posisi 9 di Jatim dengan angka 1,66 persen. Untuk Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Lumajang di posisi 20 se-Jatim dengan nilai Rp 19,56 triliun. Sedangkan pendapatan per kapita 27,12 juta dan berada di peringkat 22 di Jatim.

“Ini jadi penyemangat saya jika jadi (bupati) lagi. Ini modal besar. Dan saya yakin (pertumbuhan ekonomi) bisa melampui 5 persen atau lebih dari itu,” tegasnya.

Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menurutnya Lumajang sudah memiliki potensi yang besar. Diantaranya pada 3 sektor. Yakni pertanian, industri pengelolahan, serta perdagangan besar dan eceran. Dari sektor tersebut, pertanian paling besar yakni 35,91 persen, disusul industri pengelolahan 19,4 persen, sedangkan perdagangan 14,40 persen

“Kami akan melihat yang paling potensi di pertanian. Kami ingin Lumajang maju di pertanian,” ungkapnya.

Sementara, tidak kalah pentingnya adalah potensi di pertambangan pasir. Meski di 2013 dan 2014 hanya ada Rp 75 juta pajak yang didapat, namun setelahnya bisa didapat banyak pajak. Pada 2015 didapat Rp 1,1 miliar, 2016 Rp 6 miliar, 2017 Rp 5 miliar meskipun izin pertambangan berkurang.

“Setelah peristiwa Salim Kancil kita bangkit. Tambang pasir saya kendalikan dan banyak pajak yang didapat,” pungkasya. (fit)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: