Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan


Oleh :
Yhana Mulyaningsih-Mahasiswa Universitas Sampoerna Jakarta

Nama calon wakil presiden yang akan mendampingi calon presiden petahana Joko Widodo (Jokowi) dalam Pilpres 2019 masih menjadi teka-teki. Meski telah mengantongi nama cawapresnya, Jokowi mengaku masih menunggu momentum yang tepat untuk mengumumkannya di hadapan publik.

Namun demikian, hingga saat ini Jokowi masih dalam fase dibanjiri nama cawapres. Sejumlah nama petinggi negeri pun disebut-sebut akan dipinang Jokowi dalam pertarungan mempertahankan kursi nomor satu di Indonesia pada Pilpres 2019 kelak. Mulai dari petinggi partai, menteri, hingga beberapa nama purnawirawan santer menjadi sasaran publik sebagai cawapres Jokowi dalam mencapai petahana pada periode keduanya.

Cawapres ‘ideal’ Versi Survei LSI
Berdasarkan survei yang diselenggarakan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada 10 Juli 2018, terdapat lima nama yang dianggap paling layak untuk mendampingi Jokowi dalam membentuk pemerintahan yang kuat. Survei tersebut dilaksanakan berdasarkan studi kualitatif dengan mengundang 30 ahli dari berbagai latar belakang di tiga zona wilayah Indonesia.

Kelima nama tersebut adalah Ketua Umum Golkar Airlangga Hartanto, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Kelimanya dipilih berdasarkan isu dalam ranah ekonomi dan pemerintahan.

Kriteria Lain
Adapun pandangan bahwa Jokowi akan memilih jalan serupa yang pernah ditempuh oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Pilpres 2009. Yakni dengan menetralkan partai koalisi dengan memilih Boediono dari kalangan teknokrat sebagai cawapresnya. Pertimbangan ini banyak mencuri pertimbangan khalayak, mengingat SBY berhasil menduduki kursi presiden bersama Boediono.

Teknokrat jika bersanding dengan Jokowi nantinya dinilai akan mumpuni dalam menstabilkan dan mengkoordinasikan kondisi perekonomian secara struktural.

Kontroversi
Selain itu, hal yang tak kalah menyedot perhatian publik adalah Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) yang namanya juga mencuat dalam long list cawapres Jokowi setelah mengumumkan dirinya sebagai pendukung Jokowi untuk menjadi Presiden Indonesia periode 2019-2024.

Kehadiran nama TGB sebagai pendukung Jokowi dan juga cawapres disambut apik oleh beberapa lapisan masyarakat pendukung yang notabenenya tim sukses Jokowi. Hal ini dikarenakan oleh basis massa serta elektabilitas TGB yang cukup tinggi.

Akan tetapi, hal tersebut nyatanya menjadi polemik dan mengejutkan pihak-pihak tertentu. Meski tidak mendapatkan sanksi apapun, pengakuan TGB sebagai pendukung Jokowi dianggap hal yang mencemooh Demokrat sebagai partai tempatnya bernaung, mengingat partai tersebut belum menyatakan keberpihakannya dalam Pilpres 2019.

TGB dalam dinamika bursa cawapres Jokowi rupanya juga mendapatkan sedikit sindiran dari partai pihak oposisi. Fadli Zon yang merupakan pendukung Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019 seakan kebakaran jenggot usai mendengar keputusan TGB dalam pencapresan Jokowi, yakni dengan menyebutkan bahwa kadar keimanan TGB yang merupakan salah satu anggota Majelis Tingkat Tinggi Demokrat bisa ditakar seusai ‘melangkahi’ serta berpindah haluan politik dari partainya dalam momen jelang Pilpres.

Memang perlu diketahui bahwa pada tahun 2016 TGB pun pernah beroposisi dengan Jokowi dalam hal kebijakan impor beras. TGB juga merupakan tim pendukung Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014 lalu.

Politikus Partai Gerindra, Desmond J. Mahesa juga menuding sikap TGB merupakan perangkat atau motif yang digunakannya guna mendapatkan perlindungan Presiden Joko Widodo lantaran terlibat sejumlah kasus yang katanya belum bisa diungkapkan.

Terlepas dari semua kriteria serta kontroversi yang ada, dalam pandangan penulis, cawapres yang digandeng Jokowi haruslah tidak hanya disenangi oleh partai namun juga disenangi oleh rakyat, tidak hanya dinilai sempurna oleh jajaran tim sukses namun juga sempurna di mata rakyat dan benar-benar memiliki legitimasi politik yang kuat. Jokowi memang perlu berhati-hati. Karena tentunya, cawapres yang ia rangkul memiliki peranan sangat penting dalam proses mendongkrak suara, sehingga akan turut serta menentukan nasibnya pada Pilpres 2019.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: