Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

Membaur dengan Warga yang Bertahan di Pengungsian

Lumajang, Motim - Para relawan asal Lumajang sudah selesai menjalankan tugas ke lokasi bencana gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Lumajang, Ir. Nugroho bersama relawan lainnya, punya banyak pengalaman dan cerita selama berada di sana.
Relawan asal Lumajang yang berada di Lombok
Relawan asal Lumajang yang berada di Lombok
Nugroho menyampaikan tim relawan memulai perjalanan dari Lumajang pada hari Selasa (28/8). Mereka membawa logistik bantuan yang sudah banyak terkumpul hasil dari penggalangan yang dilakukan oleh berbagai kalangan. Termasuk Pemkab Lumajang dan berbagai komunitas.

Waktu perjalanan yang ditempuh cukup lama. Hampir 24 jam untuk sampai di lokasi bencana. Mengingat akses di Lombok yang sudah tidak seperti dulu. Sudah banyak yang rusak. “Perjalanan dari Lumajang, kita melalui perjalanan darat. Sampai di Lombok Utara itu membutuhkan waktu 23 jam, untuk sampai di lokasi,” katanya pada Memo Timur.

Tim relawan memang sengaja mendistribusikan bantuan langsung hingga ke tempat pengungsian. Segala persiapan sudah dilakukan dengan matang untuk dapat mencapai lokasi. Termasuk menghadapi jalur yang sulit sekalipun. Kendaraan yang dipakai dan dibawa ke sana diantaranya motor trail dan mobil ranger.

“Kita fokus menyalurkan bantuan di beberapa titik di sana. Disamping itu, kita membantu tim kesehatan yang sudah beberapa minggu sebelumnya di sana,” ungkapnya.

Ir. Nugroho memiliki cerita yang paling berkesan saat di sana. Yakni semangat warga di sana meskipun sudah ditimpa musibah. Bahkan tempat tinggal sudah tidak bisa ditempati. Namun mereka tetap memilih bertahan di sana dengan tinggal di pengungsian.

“Walaupun listrik sebagian mati, air bersih juga terbatas. Tapi mereka bertahan di pengungsian,” kata dia.

Salah satu titik lokasi yang dituju, adalah Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Sebuah desa yang dekat dengan Gunung Rinjani dan menjadi pos terakhir pendakian. Nugroho dan kawan-kawan melihat dampak gempa di sana begitu luar biasa.

“Dampaknya hampir 95 persen. Di sana tinggal 2.400 Kepala Keluarga dengan total 7.800 jiwa. Rumahnya roboh,” terangnya.

Namun dirinya melihat semangat mereka begitu besar untuk kembali membangun kehidupan yang baru di sana. Semangat untuk menjalani kehidupan yang normal kembali. “Kita lihat semangat warga di sana luar biasa. Dengan segala keterbatasan akses, mereka tetap ingin berbenah dan ingin keluar dari persoalan,” ucap Nugroho.

Bahkan semangat untuk kembali menjalankan roda perekonomian mulai terlihat di sana. “Yang biasanya berjualan kembali berusaha berjualan di sana. Seperti membuka warung, kembali dilakukan,” ujarnya.

Pemerintah setempat dibantu pemerintah provinsi dan pusat pun sudah mulai bekerja untuk melakukan pembenahan di sana. Utamanya melakukan perbaikan untuk fasilitas umum. Seperti sarana dan prasarana untuk kesehatan, pendidikan, dan ibadah.

“Untuk sementara rumah sakit dibangun dari tenda-tenda. Termasuk puskesmas juga, dan dibantu oleh para relawan kesehatan,” pungkasnya.

Tim relawan berjumlah 13 orang. Diantaranya, 8 orang personil Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang. Ditambah 5 orang dari perwakilan berbagai komunitas yang tergabung dalam Masyarakat Lumajang Peduli Lombok.

Bantuan yang dibawa pun berbagai macam dengan nilai puluhan juta. Bantuan ini diangkut menggunakan truk dan pickup. Diantaranya berupa tenda, terpal, tikar, selimut, makanan, obat-obatan, genset, lampu, dan bantuan lainnya. Tim relawan tiba kembali di Lumajang, Jumat (31/8). (fit)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: