Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

Lumajang, Motim - Kasus persetubuhan di bawah umur kembali mengguncang dunia Pendidikan. Korbannya adalah siswi kelas X salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kecamatan Senduro, sebut saja Cempaka (16) warga Desa/Kecamatan Senduro.

Paur Subbag Humas Humas Polres Lumajang Ipda Catur Budi Bhaskara
Paur Subbag Humas Humas Polres Lumajang, Ipda Catur Budi Bhaskara
Akibat pergaulan bebas itu, Masa depan cempaka hancur.

Tidak hanya itu, Cempaka nama samarannya yang wajahnya masih imut-imut harus menanggung malu, karena Cempaka sudah berbadan dua. Informasinya, kandungan Cempaka sudah berusia 8 bulan.

Kini kasusnya sudah ditangani oleh Unit Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA) Polres Lumajang.

“Cempaka hamil setelah berulang kali melakukan hubungan intim bersama Muhamad Zainul Bahroni Hariadi (19), warga Desa Pandansari, Kecamatan Senduro,” kata Paur Subbag Humas Humas Polres Lumajang, Ipda Catur Budi Bhaskara.

Kasus persetubuhan ini menurut Catur bermula pada 25 Desember 2017, pelaku bertamu ke rumah Cempaka. Setelah terlibat obrolan lama, pelaku mengajak korban masuk ke kamarnya untuk melakukan hubungan intim. Korban yang termakan bujuk rayu pelaku mengikuti ajakan pelaku.

“Menurut pengakuan korban, pelaku sering mengajak korban melakukan hubungan intim. Terkadang di rumah korban juga di rumah temannya. Modus pelaku, sebelum mengajak korban berhubungan intim, pelaku cerita tentang berhubungan badan,” ungkapnya.

Melihat kenyataan itu, orang tua korban terus melapor ke Sentra Pelayanan Polsek Senduro. Namun, kini kasus itu sudah ditangani oleh Unit Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA) Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Lumajang. Muhamad Zainul Bahroni Hariadi sudah diamankan di rumah tahanan Polres Lumajang.

“Perbuatan Muhamad Zainul Bahroni Hariadi dijerat UURI No 35 Tahun 2014 atas perubahan UURI No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, dipidana hukuman penjara maksimal 15 Tahun,” pungkasnya.

Secara terpisah Kepala Dinas SMA/ SMK Lumajang, Drs. H. Sugiono Eksantoso, M M ketika dikonfirmasi menuturkan apabila kasus asusila itu pelaku tidak bertanggungjawab, maka harus ditempuh dengan jalur hukum. “Kalau bisa diselesaikan secara kekeluargaan, karena menyangkut masa depan korban utamanya,” tambahnya.

Sugiono juga menyampaikan, kasus ini bukan tanggungjawab pihak sekolah saja. Melainkan tanggungjawab bersama antara sekolah, orang tua juga masyarakat. Karena kasus ini sangat perlu kepedulian bersama dalam menyelesaikan. “Yang pasti, sekolah baik itu SMA maupun SMK harus lebih intens lagi dalam pendidikan karakter agar kejadian ini tidak terulang lagi,” harapnya.(cho)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: