Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

Lumajang, Motim - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj berikan tanggapan soal aksi pembakaran bendera yang dianggap milik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh Banser yang terjadi di Garut. Tanggapan itu Ia sampaikan saat ditanya wartawan ketika berkunjung ke Lumajang, Selasa (23/10).

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj
Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj
Sebelum menghadiri Pelantikan PCNU Lumajang, kepada wartawan Ia menyampaikan jika aksi pembakaran itu dilakukan karena melihat bendera berlafal tauhid itu dianggap milik HTI yang sudah dinyatakan sebagai organisasi terlarang.

Said Aqil menegaskan, aksi ini dilakukan sama halnya dengan jika ada sobekan alquran. Karena lebih baik dibakar daripada dibuang. “Kalau kita di musholah ada Alquran yang rusak dan sobek-sobek dikumpulkan dan dibakar saja lebih baik,” katanya saat ditemui di Pendopo Lumajang.

Tindakan yang dilakukan seperti membakar Alquran yang rusak itu tentunya tidak ada maksud untuk menghina Alquran itu sendiri. “Jadi bakarnya itu bukan menghina tapi dalam rangka mengamankan,” ucapnya.

Namun dirinya tetap menyayangkan adanya aksi pembakaran bendera berlafal tauhid yang dianggap milik HTI tersebut. “Kita sayangkan itu tindakan yang emosional tetapi tidak bisa kita salahkan,” jelasnya.

Menurut Said Aqil yang dilakukan oleh Banser di Garut itu sebagai sikap terhadap organisasi terlarang, sama halnya yang dilakukan kepada Partai Komunis Indonesoia (PKI). “Sebaiknya yang paling benar adalah dirampas, disimpan saja,” ucapnya.

Lanjutnya, pihaknya juga sudah pasrah dengan pihak berwenang yang sudah memproses kejadian ini. Meskipun jika ada sanksi hukum yang diberikan kepada pelakunya. “Terserah polisi, ini kita negara hukum,” pungkasnya. (fit)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: