Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

Lumajang, Motim - Muhamad Yasin bin Matasan (49), warga Dusun Karangrejo, Desa Kaliwungu, Kecamatan Tempeh, ditangkap unit Pidana Tertentu (Pidter) Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Lumajang, karena diduga melakukan penambangan pasir tanpa dilengkapi dengan Izin Usaha Pertambangan (IUP), Izin Pertambangan Rakyat (IPR) atau Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).

lokasi tambang pasir milik Yasin
lokasi tambang pasir milik Yasin
Dari lokasi penambangan diamankan 2 unit truck, 2 unit truck rakitan, 3 buah skrop dan buku harian daftar pekerja, juga daftar keluar masuk truck yang mengangkut pasir. Kini Muhamad Yasin sudah meringkuk di rumah tahanan Polres Lumajang.

Sedang sejumlah barang yang diamankan dari lokasi penambangan langsung diamankan di gudang Polres Lumajang untuk dijadikan sebagai barang bukti (BB) dalam sidang pengadilan mendatang. “Penangkapan kami lakukan pada Jum’at (19/10), sore sekitar pukul 17.30 WIB. Maaf baru memberikan informasi karena masih dikembangkan,” ungkap Kasat Reskrim, AKP Hasran, SH,M.Hum.

Awalnya,, tepatnya Jum’at (28/9), pihaknya mendapat laporan dari masyarakat apabila pelaku membuka lahan tambang di Dusun Karangrejo, Desa Kaliwungu, dengan mempekerjakan sejumlah pekerja dengan upah harian Rp. 350.000 (Tiga Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah) per truck.

Selama penambangan berlangsung, pelaku tidak pernah mengajukan ijin terkait penambangan yang dilakukan. Atas informasi masyarakat itulah, Pidter langsung bergerak cepat melakukan penyelidikan. Setelah hampir 2 pekan lamanya, diperoleh keterangan apabila penambangan yang dilakukan pelaku benar-benar tidak mengantongi ijin.
Pelaku saat diamankan di Polres Lumajang
Pelaku saat diamankan di Polres Lumajang
Atas dasar itulah, pihaknya langsung menangkap pelaku lengkap dengan sejumlah BB. “Pelaku juga mengakui apabila tidak mengantongi ijin terkait usaha penambangan yang dilakukan itu Mas,” ungkapnya lagi.

Atas perbuatannya itu, pelaku dijerat dengan pasal 158 UURI No 4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara, dipidana ancaman hukuman penjara 10 tahun atau denda paling banyak 10 milyar. “Mudah-mudahan berkas pemeriksaannya segera rampung biar segera dilimpahkan ke JPU,” pungkasnya.(cho)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: