Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

Lumajang, Motim - Diduga melakukan pencabulan terhadap keponakannya yang lagi dibawah umur, seorang paman yang bekerja sebagai konsultan perencanaan pembangunan lulusan S2 salah satu perguruan tinggi di Jerman, dibekuk unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Lumajang.

Pelaku saat diamankan. 
Kini, konsultan yang diketahui bernama Raden Bagus W, warga jalan Imam Suja’i, Kelurahan Citrodiwangsan, Kecamatan Kota Lumajang, sudah meringkuk di rumah tahanan (Rutan) Polres Lumajang.

“Pelaku ditangkap unit PPA di rumahnya dan kami pimpin sendiri Mas,”kata Kasat Reskrim AKP Hasran, SH, M.Hum saat dikonfirmasi Memo Timur pada Rabu (14/11) sekira pukul 12.00 Wib di kantornya.

Ditangkapnya konsultan tersebut bermula dari laporan seorang ibu ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polres Lumajang yang menyampaikan jika putrinya sebut saja Melati telah dicabuli oleh pamanya yang tak lain konsultan tersebut.

Berangkat dari laporan itu, unit PPA terus melakukan proses penyelidikan termasuk memintai keterangan Melati. Menurut pengakuan korban dirinya telah digituin oleh pamannya itu sebanyak 20 kali. Lanjut Hasran, sejumlah saksi juga telah dimintai keterangan dan hasil proses penyelidikan itu langsung digelarkan.

Setelah dinyatakan lengkap, pihaknya langsung melakukan penangkapan terhadap terlapor yang diketahui tinggal serumah dengan keluarga korban kemudian digelandang menuju ke Polres Lumajang untuk dilakukan proses pemeriksaan terkait kasus yang dilaporkan orang tua korban.

Setelah dicecar banyak pertanyaan, akhirnya pelaku mengakui perbuatannya. Tapi, dia mengaku hanya meraba-raba payu dara korban. Pelaku menolak jika dirinya dituduh telah menyetubuhi korban. “Hak dia untuk tidak mengakui perbuatannya,”ujarnya.

Lanjut Hasran, seharusnya pelaku sebagai pamannya melindungi korban dari segala hal demi kebaikan dan masa depannya. Bukan malah sebaliknya memperlakukan korban sebagai tempat pelampiasan nafsu bejatnya.

Akibat prilaku bejatnya itu pelaku dijerat dengan UURI No 35 Tahun 2014 perubahan atas UURI No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan terhadap anak dipidana hukuman penjara maksimal 20 tahun.”Kondisi Melati masih trauma berat saat ini menjalani terapi didampingi orang tuanya,”tutur Kasat Reskrim.

Secara terpisah Kapolres Lumajang AKBP DR. M. Arsal Sabhan, SH., S.IK., MM., MH saat dikonfirmasi disela-sela acara silaturohim dengan tokoh agama mengatakan dirinya mengecam kerastas perbuatan pelaku yang sungguh bejat hingga tega perbuatan memalukan tersebut.

Seharusnya kata Kapolres, pelaku sebagai pamannya menjaga melindungi korban.”Saya sudah perintahkan Kasat Reskrim untuk melakukan penegakan hukum sekaligus melakukan pengembangan siapa tahu ada korban lain,”tegas Kapolres Lumajang.(cho)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: