Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

Lumajang, Motim - Calon wakil presiden nomor urut 02, H. Sandiaga Salahuddin Uno, B.B.A., M.B.A melakukan safari politik ke Lumajang, Minggu (25/11). Ada banyak agenda dalam sehari yang harus Ia laksanakan. Dari senam bersama emak-emak di Alun-Alun, blusukan ke Pasar Baru, Peresmian Rumah Juang, hingga ngopi bareng di Kedai Pitulas.

Sandiaga Uno berdialog dengan masyarakat Lumajang
Sandiaga Uno berdialog dengan masyarakat Lumajang
Saat ngopi bareng, cawapres yang akrab dipanggil Sandiaga Uno itu juga melakukan dialog langsung dengan masyarakat. Dalam dialog itu dirinya banyak diwaduli mengenai permasalahan yang ada di Lumajang.

Diantaranya mahalnya harga sembako saat ini. Banyak kebutuhan pokok sehari-hari yang diakui masyarakat harganya naik. “Ini masyarakat yang bilang, bukan Saya. Tadi di pasar juga banyak yang menyampaikan begitu,” ujar pasangan Prabowo Subianto di Pilpres 2019 itu.

Di saat harga sembako dakui mahal, namun petani justru harus merasakan panen yang kurang menguntungkan. Salah satunya adalah petani tebu. “Saat ini harga tebu semakin merosot,” kata salah satu petani pada Sandiaga Uno. Padahal biaya perawatan hingga panen, juga butuh biaya yang tidak murah.

Sama halnya dengan tebu, komoditi semangka di Lumajang nasibnya juga tidak jauh beda. Padahal di Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun ada 200 hektare. Namun itu tidak bisa maksimal sejauh ini.

Selanjutnya, ada salah satu honorer yang menyampaikan nasib sejawatnya pada Sandiaga Uno. “Bagaimana nasib kita, kita gajinya Rp 200 ribu per bulan,” ucapnya. Ia ingin Sandi bisa mengatasi persoalan ini.

Karena dengan gaji segitu, guru tidak menjamin pendidikan bisa berkembang dengan baik. “Saya sudah ada komitmen di 2019, ada peningkatan status kesejahteraan bagi guru honorer,” jawab Sandi dengan disambut tepuk tangan.

Kemudian Lumajang diketahui sebagai daerah dengan kekayaan alam yang luar biasa. Namun tidak dipungkiri ada kemudian oknum pengusaha yang menjalankan bisnisnya berdampak pada kerusakan lingkungan. Misalnya masalah tambak udang di Desa Wotgalih yang dinilai merusak lingkungan di sana.

“Tambak udang yang mengganggu keseimbangan alam di sana,” kata Ali Ridho, warga Desa Wotgalih.

Sandi pun langsung merespon, Ia berkomitmen akan mendorong banyaknya lingkungan kerja yang tercipta namun tetap memperhatikan lingkungan. “Diantaranya agar petani tidak kehilangan posisinya. Kita ingin koridor pembangunan yang berkelanjutan,” ucapnya.

Sementara, anggota DPR RI, Bambang Hariadi yang mendampingi Sandi menambahkan, jika permasalahan lingkungan hidup di Lumajang bukan hal baru. “Bahkan sampai makan korban, lingkungan rusak karena tangan jail. Kami juga melakukan pendalaman tentang ilegal mining,” ujarnya. (fit)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: