Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

Lumajang, Motim - Puluhan warga yang memgatasnamakan Komunikasi Paguyuban Petani Pesisir Selatan (KOPPAS) bersama Serikat Petani Lumajang (SPL) menyerbu Kantor Bupati dan Badan Pertanahan Nasional (BPN), Rabu (21/11) pagi.

Warga mendatangi Kantor Bupati
Warga mendatangi Kantor Bupati
Kedatangan mereka tidak lain terkait adanya sengketa lahan seluas 78 hektare di pesisir Desa Pandanwangi Kecamatan Tempeh. Karena hingga saat ini, permasalahan antara warga dengan pemangku kebijakan masih belum terselesaikan.

Mula-mula warga dengan naik truk, tiba di Kantor BPN terlebih dulu. Mereka menyampaikan aspirasinya disana, agar BPN segera mengatasi permasalahan ini. Kemudian warga melanjutkan aksinya ke Kantor Bupati.

Ada sejumlah tuntutan yang disampaikan kepada Pemkab Lumajang, untuk menyelesaikan mengatasi sengketa. Diantaranya, mendesak BPN untuk menghentikan pengukuran dan pematokan lahan sengketa yang diduga dilakukan oleh oknum perangkat desa setempat.

“Memohon BPN sesuai dengan komitmennya pada waktu di DPRD, bahwa tidak akan mengeluarkan sertifikat di tanah sengketa,” kata Nanang Qosim, selaku koordinator aksi. Mereka juga meminta kepada bupati untuk memberikan sanksi yang tegas kepada Kepala Desa Pandanwangi yang diduga sudah menyalahi wewenangnya.

Aksi yang dilakukan ini merupakan kelanjutan dari aksi-aksi sebelumnya yang pernah digelar. Awalnya pada 23 Agustus 2018 lalu di Kantor DPRD Lumajang. Saat itu Komisi A DPRD menerima kedatangan mereka dan membahas apa yang telah terjadi.

Komisi A meminta warga untuk mengumpulkan data. Kemudian dipertemukan dengan beberapa pemangku kebijakan. Diantaranya BPN, sejumlah kades termasuk Kades Pandanwangi, sejumlah camat, Waka Perhutani Lumajang, dan Polres.

Namun dalam pertemuan tersebut, justru Kepala Desa Pandanwangi menyatakan bahwa KOPPAS adalah Penjarah tanah dan merampas hak orang lain. “Bahkan juga dinyatakan bahwa sudah ada investor yang mau mengelola tanah tersebut,” ujar Nanang Qosim. (fit)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: