Harjalu ke-763, Falsafah Nararya dan Wiraraja Dibawa ke Pemerintah

Lumajang, Motim - Pada 15 Desember 2018, Lumajang sudah genap berusia 763 tahun. Prosesi Hari Jadi Lumajang (Harjalu) digelar di Alun-Alun, Sabtu (15/12), untuk mengenang kembali sejarah berdirinya Lumajang. Bahkan Harjalu kali ini digunakan sebagai momentum untuk memasukkan falsafah yang dimiliki Nararya Kirana dan Arya Wiraraja ke dalam tubuh pemerintahan.
Adegan penyerahan tombak pusaka dari Wisnu Wardana kepada Nararya Kirana
Adegan penyerahan tombak pusaka dari Wisnu Wardana kepada Nararya Kirana
Keduanya merupakan tokoh sejarah yang merupakan sosok pemimpin dan dianggap paling berpanguruh di tanah Lumajang. Nararya Kirana adalah penguasa pertama di Lumajang yang dinobatkan oleh ayahnya, Raja Singosari, Wisnu Wardana 763 tahun silam yang menjadi cikal bakal keberadaan Lumajang. Sehingga kemudian menjadi dasar penetapan Harjalu.

Sedangkan Arya Wiraraja adalah Raja Lamajang Tigang Juru. Kerajaan yang besar di masa itu dan dianggap sejajar dengan Majapahit. “Arya Wiraraja mempunyai jiwa ksatria, administrator, kepemimpinan, tangguh, dan jati diri yang bisa membuktikan zaman itu Lamajang Tigang Juru bisa berdaya saing,” kata Bupati Lumajang, Thoriqul Haq, M.ML saat sambutan.

Untuk itu bupati ingin gagasan dan pandangan yang dimiliki kedua tokoh ini bisa ditiru untuk membuat Kabupaten Lumajang bisa lebih maju dan lebih baik lagi. “Hari ini tanggungjawab kita. Lumajang yang akan datang harus punya daya saing, jati diri. Masyarakat harus sejahtera. Meneruskan cita-cita para leluhur,” tegasnya.

Berkat kedua tokoh ini pula, Lumajang menjadi daerah yang memiliki sejarah besar. Ditambah topografi daerah yang juga mendukung. “Ketika banyak daerah masih kebingungan dan mencari sejarah daerahnya, kita sudah memiliki sejarah yang besar,” pungkasnya.

Bahkan di kesempatan yang sama, Wakil Bupati, Ir. Indah Amperawati, M.Si mengatakan, kedua tempat penting di Lumajang kini secara resmi diberi nama kedua tokoh ini. Pendopo Kabupaten diberi nama Arya Wiraraja. Kemudian rumah dinas wakil bupati diberi nama Nararya Kirana.

“Agar masyarakat Lumajang mengenal tokoh pendiri Lumajang dan selalu memberikan semangat juang bagi kita semua,” ucap Indah.

Dalam prosesi Harjalu tersebut juga ada hal unik. Ada adegan yang menceritakan penyerahan tombak pusaka dari Raja Wisnu Wardana kepada Nararya Kirana yang diperankan oleh bupati. Sebagai simbol diperintahkannya Nararya Kirana sebagai penguasa Lumajang.

Masyarakat yang hadir saat prosesi Harjalu juga banyak dihibur. Diantaranya ada Tari Godril Lumajang dengan 200 penari. Ada juga gunungan hasil bumi yang kemudian menjadi rebutan. Lebih dari 7 ribu nasi kotak dibagikan. Pada malam harinya, ada Sabyan Gambus yang menyapa ribuan masyarakat. (fit)