Sempat Kisruh, Jalan Alternatif Wates Wetan Selesai Dikerjakan

Lumajang, Motim - Jalan alternatif di Desa Wates Wetan, Kecamatan Ranuyoso akhirnya benar-benar selesai dikerjakan. Proses pengerjaan memang tidak berjalan mulus. Kisruh sempat kembali terjadi, namun berhasil diredam oleh petugas gabungan.
Jalan alternatif Wates Wetan selesai dikerjakan
Jalan alternatif Wates Wetan selesai dikerjakan
Sisa pengerjaan jalan memang sempat terganggu sejak Oktober lalu. Warga sekitar yang sempat memprotes proyek ini. Bahkan mereka sampai menemui Bupati Lumajang, Thoriqul Haq, M.ML untuk menyelesaikannya. Kemudian ada titik temu sehingga pengerjaannya akan dilanjutkan.

Pengerjaan jalan pun mulai dilanjutkan Senin (24/12), lalu, sepanjang 25 meter dengan lebar 6 meter. Tetapi ada warga yang kembali memprotes pengerjaan ini. Petugas dari Satpol PP dan Polres Lumajang pun turun tangan untuk berjaga di sana.

“Ada kabar, ada yang mau marah-marah, kita pun minta bantuan dari Polres,” kata Kepala Satpol PP Lumajang, Basuni pada Memo Timur, Kamis (27/12).

Dengan adanya penjagaan dari petugas, akhirnya proses pengerjaan jalan kemudian bisa dilakukan tanpa ada hambatan. Selama 3 hari para pekerja bisa menyelesaikan jalan. Pada Rabu (26/12) malam, pekerjaan selesai secara total.

Dengan adanya komunikasi, warga pun juga akhirnya tidak menolak jika pohon miliknya ditebang untuk kepentingan umum. Seperti yang diketahui, sebelumnya warga meminta agar proyek pengerjaan jalan dilakukan dengan tidak menebang pohon milik warga.

“Ada 6 batang pohon yang ditebang. Tidak ada masalah,” tegasnya.

Dalam kelanjutan pengerjaan jalan itu, Basuni mengatakan jika tidak ada kepala desa dan camat setempat yang mau turun langsung ke lokasi. Untuk bisa membantu meredam warganya agar tidak kembali terjadi kekisruhan.

“Camat gak datang, Kades Wates Wetan juga gak datang. Kisruh yang sempat terjadi, memang karena sebelumnya tidak ada komunikasi yang baik dengan warga,” pungkasnya.

Jalan alternatif Wates Wetan merupakan jalan untuk mengurai kemacetan yang sering terjadi akibat pasar tumpah di desa tersebut. Proyek tersebut menelan anggaran hingga Rp 4,3 miliar. (fit)