Diduga Masih Ada Penarikan di Portal Truk Pasir

Lumajang, Motim - Penutupan akses kendaraan tambang di jalan desa nampaknya diduga karena adanya penarikan uang di portal yang dilalui truk pasir. Hasil tarikan di portal yang dilakukan warga ini, tidak jelas pengelolaannya. Sehingga warga lain yang kesal memilih melakukan penutupan jalan.
Penutupan akses kendaraan tambang beberapa waktu lalu
Penutupan akses kendaraan tambang beberapa waktu lalu
Sebelumnya, aksi penutupan jalan dilakukan warga di Dusun Sudimoro, Desa Kalibendo, Kecamatan Pasirian. Kemudian aksi serupa disusul oleh warga di Dusun Urang Gantung, Desa Jarit, Kecamatan Candipuro.

Padahal dalam komitmen bersama yang dibuat tanggal 6 Desember 2018 lalu, disepakati bahwa tiap desa yang dilewati kendaraan tambang dilarang melakukan penarikan uang. Namun nampaknya masih ada desa yang melakukan penarikan kepada sopir truk pasir yang melintas.

Dari informasi warga setempat, hasil tarikan di portal itu pengelolannya tidak jelas. Tidak ada transparansi. Karena hasil yang didapat, dinilai tidak sesuai dengan hitungan kendaraan yang lewat.

"Kapan hari Pak Sonto yang menarik portal selama 3 hari saja mendapat Rp 7 juta, dan tiap RT mendapat Rp 1 juta lebih," ujar Kasun Sudimoro, Abdul Kholiq pada wartawan.

Kemudian ada warga yang mengatakan jika tarikan portal di Dusun Sudimoro selama sebulan tiap RT hanya mendapat bagian kurang dari Rp 4 juta. Sementara hasil tarikan 7 hari tidak ada pembagiannya.

Padahal tarikan yang dilakukan oleh pengurus lain itu, hanya dengan waktu 3 hari saja sudah mendapat Rp 7 juta. "Mendingan tidak ada tarikan portal kalau hanya untuk memperkaya segelintir orang saja," kata pria yang enggan disebutkan namanya itu.

Untuk menyelesaikan persoalan ini, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) telah terjun ke lokasi. Jalan khusus tambang juga masih dalam proses pengerjaan. Sehingga nantinya kendaraan tambang tak lagi melewati jalan desa. (cho)