Diberdayakan oleh Blogger.

Head Line News

Peristiwa

Politik

Pemerintahan

Kriminal

Pendidikan

Lumajang, Motim - Tim gabungan dari TNI-Polri bersama masyarakat melakukan patroli, untuk mengantisipasi serangan kera ke pemukiman, Senin (14/1). Petugas berusaha mengusir kawanan kera menggunakan senapan angin dan ketapel. Agar meraka tidak lagi berada di pemukiman.

Petugas gabungan melakuka antisipasi serangan kera
Petugas gabungan melakuka antisipasi serangan kera
Petugas juga menghimbau agar warga di sekitar Gunung Lemongan tetap waspada. Bahkan, jika mendapati kera liar yang turun ke permukiman, diharap masyarakat cepat mengusirnya menggunakan senapan angin dan ketapel.

“Sudah ada satu yang ditembak oleh warga menggunakan senapan angin. Karena kita menghimbau agar dilumpuhkan saja, tapi untuk kera yang satu ini memang yang diduga menggigit keempat balita di sini, maka ditembak mati,” kata Kapolres Arsal Sahban.

Lanjutnya, memang di kawasan tersebut cukup banyak kera liar. Seperti di Ranupakis. “Karena kalau habitatnya diganggu pasti ke sini (permukiman warga) kita himbau memang kalaupun melakukan penembakan gunakan senapan angin saja. Sifatnya hanya melumpuhkan,” ujarnya.

Di kesempatan berbeda, Wakil Bupati Lumajang, Indah Amperawati menjenguk Salsabilah, salah satu balita yang menjadi korban gigitan kera liar di Desa Tegal Randu, Kecamatan Randuagung.

Saat menemui Salsabilah, Wabup juga berjanji, akan menanggung biaya perawatannya di RSUD dr. Haryoto. Dalam kesempatan itu, selain untuk melihat kondisi Salsabilah, dirinya atas nama Pemkab Lumajang juga sekalian meminta maaf. Karena sebelumnya Salsabillah sempat dibawa ke RSUD dr. Haryoto namun ditolak dengan alasan tidak ada vaksin rabies.

“Ini ada miss komunikasi dan introspeksi untuk perbaikan pelayanan. Jadi di puskesmas sempat dirawat lukanya. Tapi ada kekhawatiran dari perawat yang itu menimbulkan masalah dan salah persepsi. Perawat mengkhawatirkan ada efek rabies yang sesungguhnya tidak ada rabies terus dianjurkan ke rumah sakit,” katanya.

Selanjutnya, dari Puskesmas Salsabilah dibawa ke RSUD dr. Haryoto dan ibunya pun bilang jika terkena rabies. “Karena ibu bilang rabies yang muncul perawat di IGD langsung mengatakan jika di rumah sakit tidak ada vaksin, adanya di Dinas Kesehatan,” ungkapnya.

Ia pun sudah melakukan evaluasi terkait hal ini. Dengan harapan tidak ada lagi kasus serupa kedepannya. “Evaluasi di IGD adalah pintu awal pelayanan. Kalau misalnya tidak ada obat rabies di rumah sakit umum, harusnya rumah sakit umum berkewajiban menerima dan merawat pasien dan koordinasi dengan dinas kesehatan,” pungkasnya. (fit)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: