Putri Gus Dur: Kita Butuh Politik Kemanusiaan

Lumajang, Motim - Alissa Qotrun Nada Muwawaroh, putri pertama Gus Dur mengatakan, pada tahun politik ini, jejak kepemimpinan Gus Dur menjadi kajian yang sangat menarik untuk kembali diingat. Salah satunya mengenai Politik Kemanusiaan.
Peringatan Haul Gus Dur yang ke-9 di Aula PCNU Lumajang
Peringatan Haul Gus Dur yang ke-9 di Aula PCNU Lumajang
“Kita membutuhkan politik kemanusiaan. Disanalah jejak Gus Dur ditemukan setelah Beliau menjabat sebagai presiden,” kata dia saat menghadiri Peringatan Haul GusDur yang ke-9 di Aula PCNU Lumajang, Sabtu (5/1).

Dalam peringatan itu diisi acara talkshow dengan tema “Yang Lebih Penting Dari Politik adalah Kemanusiaan”. “Tema tersebut merupakan kata-kata yang pernah diucapkan Bapak (Gus dur, red), dan kebetulan tahun ini adalah tahun politik”, jelasnya.

Wanita yang akrab disapa Neng Alissa ini, juga menceritakan sejumlah peristiwa tentang kepemimpinan Gus Dur yang menjadi contoh dari politik yang memiliki nilai kemanusiaan. Diantaranya saat Gus Dur mengunjungi Timor Leste pada 2001.

Saat di sana, masyarakat Indonesia masih marah atas lepasnya Timor Timur dari Indonesia, tetapi Gus Dur kemudian meminta maaf kepada Timor Leste atas sejumlah kekerasan yang pernah terjadi. Mengakui kesalahan dan menerima maaf merupakan cara untuk mengobati luka dan prasyarat menuju rekonsiliasi. Memaafkan bukan berarti melupakan,” kata Alissa.

Lebih jauh, Alissa mengisahkan, ketika ada masyarakat adat dan orang rimba di hutan yang terancam tergusur, karena Hutan sebagai tempat tinggalnya akan dibeli oleh para pemilik modal.

Maka Gus Dur mengambil sikap dengan mengeluarkan Keputusan Presiden (Kepres) yang menyatakan bahwa hutan milik negara tidak boleh dijual, dan negara harus melindungi masyarakat adat yang ada di dalamnya.

“Kepres itu akhirnya melindungi orang-orang rimba yang hidup di sana. Hal itu dilakukan karena mereka kan hidupnya berpindah-pindah,” kisah Alissa. (*/fit)