Batas Waktu Berakhir! Warga kembali Tutup Jalur Truk Pasir

Lumajang, Motim - Bupati Lumajang, Thoriqul Haq sebelumnya meminta kesepakatan agar warga mengizinkan jalan desa dilalui kendaraan tambang. Kesepakatannya, maksimal dalam jangka waktu sekitar satu bulan. Karena proses pembangunan jalur khusus tambang masih dikerjakan.
Warga kembali menutup jalan
Warga kembali menutup jalan
Namun sudah lewat dari kesepakatan itu, jalur khusus itu belum selesai. Sehingga truk pengangkut pasir masih tetap melintas di jalan desa. Wargapun melakukan aksi penutupan jalan. Tepatnya di Dusun Uranggantung, Desa Jarit, Kecamatan Candipuro, Senin (18/2).

Sejak pagi ratusan warga sudah berkumpul di sekitar portal yang ada di sana. Portal yang ditutup itu membuat truk pasir tak bisa melintas. Akibatnya terjadi antrean yang sangat panjang hingga siang hari.

Kemudian Polres Lumajang bersama jajaran terkait lainnya turjun langsung ke lokasi untuk menangani hal ini. Pihak kepolisian pun berinisiatif menyelesaikan permasalahan ini dengan musyawarah. Agar antara sopir dan warga setempat ada kesempatan.

Kabag Ops Polres Lumajang, Kompol Eko Hari Suprapto, SH yang memimpin mediasi antara warga dengan sopir. Akhirnya diperoleh kesepakatan, jika truk pasir boleh melintas lagi di jalan desa dengan waktu yang ditentutan.

“Tadi kita lakukan mediasi dan mereka memberikan waktu 3 bulan dengan catatan, itu maksimal, sebelum 3 bulan kalau jalan alternatif sudah selesai ya tidak boleh lewat situ lagi, jadi maksimal 3 bulan,” kata Kompol Eko Hari.

Selain memberi batas waktu 3 bulan, ada catatan bagi sopir agar patuh pada aturan yang ada. “Jam 8 pagi berangkat, jam 5 sore selesai, nggak boleh lewat lagi sudah, kan biasanya ada yang mokong kan, ada yang mau lewat. Itu yang membuat warga resah,” tegasnya.

Lanjutnya, dihimbau kepada semua pihak agar tidak lagi bersikukuh. “Mari kita saling menjaga antara sopir dan warga, masing-masing jangan memaksakan kehendak, kalau ada masalah, kita musyawarah, kita cari solusi yang baik,” ucapnya.

Kompol Eko juga tidak ingin, jangan sampai ada kekerasan fisik dalam menyelesaikan persoalan ini. “Seperti yang terjadi di Kajar Kuning, salah paham sampai terjadi penganiayaan, Saya nggak mau terjadi di Urang Gantung ini,” ucapnya.

Ia juga meminta pihak terkait yang melakukan pengerjaan jalur alternatif ini, bisa cepat menyelesaikan tugasnya. “Dan nanti muspika akan menghadap pak bupati supaya PU nanti kerjanya dipercepat lagi,” pungkasnya. (cho/fit)