Laporan Resmi Diterima, Ayah Agil: Saya Cari Keadilan

Lumajang, Motim - Keluarga korban insiden pacuan kuda kembali mendatangi Polres Lumajang, Rabu (13/2). Ayah korban, Usman Rofi’i bersama kerabat harus melapor lagi. Karena laporan sebelumnya belum diterima Polres. Kini laporan resmi diterima dengan bukti adanya surat laporan polisi (LP).
Ayah korban menunjukkan bukti laporan
Ayah korban menunjukkan bukti laporan
Usman menyampaikan, upaya ini untuk meminta pertanggungjawaban dari pihak panitia atas kematian anaknya, Mahgda Agil Benzema. Ia ingin kepolisian mengatasi kasus ini. Mengusut adanya pelanggaran dalam Lomba Pacuan Kuda di Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun itu.

“Saya datang ke sini untuk mencari keadilan. Saya serahkan semuanya pada polisi untuk mengusutnya,” katanya.

Seperti diketahui, Senin (11/2) lalu, Ia sudah datang ke Polres untuk melaporkan kematian anaknya usai ditabrak salah satu kuda peserta. Ia melapor ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu. Kemudian diarahkan ke Sat Reskim. Di sana ditemui KBO Reskrim, Iptu Hariyanto.

Usai menemui Iptu Hariyanto, keluar dari ruangan ayah korban nampak lesu. Ia juga enggan menanggapi pertanyaan dari wartawan. Pria yang biasa dipanggil Cong Ibra itu harus pulang tanpa mendapat bukti laporan.

Pihak Polres menyampaikan, jika pihaknya melakukan koordinasi terlebih dulu, untuk menanggapi laporan tersebut. Namun pada keesokan harinya, Kapolres Lumajang, AKBP M. Arsal Sahban memimpin langsung rekonstruksi insiden itu di tempat kejadian perkara (TKP).

“Setelah ini, keluarga bisa datang ke Polres lagi untuk melapor,” katanya, Selasa (12/2).

Namun nampaknya, Cong Ibra dan keluarga tidak hari itu juga ke Polres. Ia memilih keesokan harinya untuk kembali melapor. Akhirnya di hari Rabu, laporannya resmi diterima. Ada bukti laporan, sehingga resmi insiden itu ditindaklanjut oleh polisi.

Cong Ibra sebelumnya menyampaikan, arena lomba tidak memenuhi standar. Pasalnya tidak dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai. Terutama pagar pembatas penonton. Akibatnya, anaknya yang masih berusia 7 tahun harus kehilangan nyawa saat menonton.

“Pagarnya hanya dari bambu dan tali rafia,” katanya.

Lanjutnya, sebelum kematian anaknya, di hari pertama perlombaan sudah ada kuda yang keluar lintasan pula. Kuda menabrak anak kecil juga yang berada di pagar pembatas sisi luar. Namun beruntung, meski luka serius anak itu tidak sampai kehilangan nyawa seperti anaknya.

“Di sana juga tidak ada tenaga medis. Ketika anak saya tertabrak kuda itu, harus mendatangkan Ambulance. Kita bawa ke puskesmas dan rumah sakit,” ungkapnya.

Setelah kasus kematian anaknya, akhirnya di hari terakhir atau final perlombaan ditiadakan. Final seharusnya digelar di Hari Minggu (10/2). Namun karena telah menelan korban jiwa, akhirnya diputuskan, final tidak digelar. (cho/fit)