Memo Timur Bantu Shifa, Bocah Penderita Kelainan Kulit

Lumajang, Motim - Shifa, bocah usia 9 tahun yang malang. Ia menderita kelainan kulit. Namun belum diketahui secara pasti apa jenis penyakit yang menyerang kulitnya itu. Dari sekian dokter yang telah memeriksanya, belum ada yang memberikan vonis.
Kondisi Shifa saat dirawat di Rumah Sakit. (cho)
Saat ini Shifa sedang menjalani perawatan di RSUD dr. Haryoto Lumajang. Redaksi Memo Timur Biro Lumajang melihat langsung kondisinya sekaligus memberikan bantuan, Selasa (19/2). Bantuan yang diberikan berupa uang tunai dan sembako untuk kebutuhan setiap harinya.

Kondisinya saat ini begitu memprihatinkan. Ia terbaring lemah dengan ditemani kedua orang tuanya, Ahmad Abdullah dan Ponik. Hampir di sekujur tubuhnya melepuh. Kemudian juga terlihat ada kulitnya mengelupas dan mengering.

Sang Ayah menyampaikan, jika sudah sejak lahir anaknya menderita penyakit langka ini. Upaya yang dilakukannya sudah maksimal. Sudah ada beberapa dokter specialis yang menangani. Bahkan sebelum ini, Shifa sudah dirawat di Rumah Sakit dr. Sutomo Surabaya.

“Tahun 2017 dirawat di Surabaya sekitar tiga bulan. Kondisinya tetap, akhirnya kita bawa pulang,” kata Ahmaf Abdullah kepada kru Memo Timur.

Tahun ini, anaknya dirawat RSUD dr. Haryoto. Ia juga belum tahu, sampai kapan anaknya dirawat disana. Informasi dari pihak rumah sakit menyampaikan, sebelum kondisi Shifa benar-benar sehat tidak diperbolehkan pulang.

“Katanya, masih menunggu obat dari Jakarta,” ucapnya.

Ahmad Abdullah adalah warga Dusun Ledok Pati, Desa Kedungmoro, Kecamatan Kunir itu. Ia terbilang dari keluarga yang tidak mampu. Untuk mencukupi kebutuhannya, ia berprofesi sebagai buruh serabutan dengan upah tidak menentu.

“Paling besar dapat Rp 30 ribu per hari,” ungkapnya. Sedangkan untuk biaya rumah sakit, sudah ditanggung oleh BPJS.

Shifa sendiri saat ini masih duduk di bangku Kelas 2 SD Negeri Kedungmoro. Saat ini Ia seharusnya sudah Kelas 3. “Namun karena sering tidak masuk untuk berobat, akhirnya tidak naik kelas,” pungkasnya.

Sementara bidan desa, Esti Dwi yang membatu kelahiran Shifa, mengatakan jika kelainan itu memang sudah sejak lahir. Ada bintik merah di kakinya seperti digigit nyamuk. “Namun saya tidak curiga awalnya,” katannya.

Namun setelah observasi selama 2 jam, bintik merah itu kemudian melebar ke telapak kaki. Kulitnya mengelupas. “Memerah seperti plasenta. Kulitnya seperti hilang. Keesokan harinya saya rujuk ke dokter spesialis kulit. Kemudian diberi salep, tapi tetap tidak ada perubahan,” ujarnya.

Lanjutnya, kondisi seperti itu bertahan hingga usia bayi. Sementara untuk pertumbuhan fisik yang lain tetap normal. “Imunisasi juga tetap. Namun untuk kulitnya tidak ada kesembuhan. Sudah berobat kemana-mana termasuk ke dokter specialis, tak sembuh juga. Diduga ada kelainan gennya,” ujarnya.

Bahkan hingga Shifa masuk usia anak-anak penyakitnya melebar. Bahkan jika mengkonsumsi makanan tertentu, penyakitnya makin parah. Sehingga Ia disarankan untuk lebih banyak makan dan sayur.

“Shifa bukan gizi buruk. Tapi, kondisinya menjadi seperti itu karena tidak boleh makan sembarangan, khawatir penyakitnya semakin parah,”ucapnya.

Sementara Kades Kedungmoro Nur Kholis mengatakan, jika pihaknya sudah menyampaikan pada keluarga agar tidak memikirkan biaya. Entah harus dirujuk dimana saja, harus diikuti. Yang penting Shifa bisa sembuh.

“Semuanya sudah bekerja maksimal untuk kesembuhan Shifa. Ada BPJS, saya ngomong jangan mikir masalah biaya. Meksipun sampai dirujuk keluar negeri,” katanya. (fit)