H. Siswanto, Ketua Panitia Pacuan Kuda Wotgalih Datangi Polres

Siswanto (baju putih) datangi Polres Lumajang. (cho) 
Lumajang, Motim - H. Siswanto selaku Ketua Panitia Lomba Pacuan Kuda di Desa Wotgalih Kecamatan Yosowilangun, mendatangi Polres Lumajang, Rabu (6/3). Namun Ia bukan memenuhi panggilan kepolisian terkait lomba yang menewaskan anak kecil itu. Ada urusan lainnya.

Karena pada hari itu tidak ada agenda pemeriksaan terhadapnya. Setelah keluar dari Polres Lumajang, kepada wartawan Ia mengaku sedang mengurus soal senjata yang akan digunakan untuk berburu.

“Mengambil senjata untuk berburu,” katanya.

Disinggung soal Ia mangkir dari panggilan penyidik sebelumnya, H. Siswanto menegaskan, jika di hari yang sama sedang berada diluar kota. “Pas ada pemanggilan, kita ziarah Wali Songo. Kita (waktu itu) sudah tiga hari di perjalanan,” terangnya.

Pria yang juga menjadi Ketua Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Lumajang itu, mengatakan agenda pemeriksaan terhadap dirinya akan dilakukan dalam dekat. Sekitar seminggu lagi.

Disinggung soal proses hukum yang harus dijalaninya, Ia mengaku pasrah. Akan menjalaninya sesuai dengan hukum yang berlaku. “Apa kata polisi untuk melakukan itu,” ucap pria yang juga kerap dipanggil Abah Sis itu.

Termasuk dengan hasil akhir dari proses hukum ini, dirinya juga siap menerima. “Kalau itu melanggar, monggoh. Kalau itu bukan pelanggaran bagaimana,” tegasnya yang datang dengan mengenakan sarung dan baju koko warna putih.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Lumajang AKP Hasran, SH, M.Hum belum berhasil dikonfirmasi terkait kedatangan H. Siswanto. Namun melalui Kaur Bin Ops Sat Reskrim Iptu Hariyanto, SH, MH menyampaikan kedatangannya saat itu bukan untuk pemeriksaan.

“Bukan ke Sat Reskrim, karena tidak ada agenda pemeriksaan. Informasinya ke Sat Intelkam. Urusan apa kami tidak tahu," ucapnya kepada Memo Timur.

Sebelumnya H. Siswanto dijadwalkan datang ke Polres Lumajang pada Jumat (1/3), lalu untuk diperiksa. Namun H. Siswanto mangkir, tak memenuhi panggilan pihak kepolisian. Selanjutnya Polres penyidik akan jemput paksa jika yang bersangkutan tidak penuhi panggilan lagi.

Dalam kasus kematian Maghda Agil Benzema di arena pacuan kuda itu, ada dugaan pelanggaran Pasal 359 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Tentang kelalaian yang menyebabkan kematian dengan ancaman penjara maksimal 5 tahun.

Namun pihak kepolisian hingga saat ini belum menetapkan tersangka. Sementara untuk saksi-saksi sudah didatangkan sebelumnya untuk diperiksa dan dimintai keterangan. Termasuk saksi ahli dari Pordasi Jatim serta Pemkab Lumajang. (cho/fit)