Musrenbang: Angka Kemisikinan 9,9 Persen, IPM Sangat Rendah

Musyawarah Perencanaan Pembangunan. (*) 
Lumajang, Motim - Bupati Thoriqul Haq, menyebut masih banyak problematika di Lumajang yang harus diselesaikan. Mulai dari kemiskinan, hingga rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Untuk itu Ia berharap rencana pembangunan kedepan, bisa mengatasi persoalan itu.

Didampingi Wakil Bupati Indah Amperawati, segala problematika itu Ia sampaikan saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Busrenbang) 2020, di Gedung Sujono, Kamis (21/3) pagi.

Bupati menyebut, angka kemiskinan di Lumajang saat ini 9,9 persen. Atau ada sekitar 103 ribu warga. Dilihat dari jumlah penduduk di Lumajang, artinya dari 10 orang, ada 1 orang yang miskin.

Pemkab Lumajang pun, sudah berkomitmen untuk terus menekan angka kemiskinan tersebut. “Berhasil atau tidak dalam mengatasi kemiskinan itu bukan hanya dilihat dari angka. Kita ingin masyarakat, dengan lantang bilang saya tidak miskin lagi,” ujar Indah.

Menurut Thoriq angka kemisikinan Lumajang tidak terlalu buruk. Karena Lumajang berada di peringkat tengah se-Jawa Timur. Namun problematika berikutnya ada unutk IPM. Karena Lumajang berada di peringkat 36 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. “Ini problem,” kata Thoriq.

Kenapa IPM di Lumajang begitu rendah, Thoriq menyebut karena karena banyak warga Lumajang yang tidak lulus Sekolah Dasar (SD). “Banyak yang tidak punya ijazah SD dan SMP. Tidak melanjutkan sekolah,” jelasnya.

Lanjutnya, karena kebanyakan warga Lumajang menurutnya tidak terlalu mempedulikan soal pendidikan. Ditambah mereka cukup mudah mendapatkan pekerjaan. Namun pekerjaan kasar tentunya. Seperti kuli bangunan, kayu, atau di tambang pasir.

“Mereka mudah mendapat pekerjaan dan sudah mendapat penghasilan yang cukup,” katanya.

Untuk itulah, meskipun indeks pendidikan rendah, jumlah pengangguran di Lumajang terbilang kecil. Yakni 2,5 persen. “Jadi IPM kita rendah karena tadi, banyak yang tidak lulus sekolah,” pungkasnya. (fit)