Setelah 2 Minggu, Jenazah TKI asal Tegal Ciut Bisa Dipulangkan

Lumajang, Motim - Setelah 2 minggu meninggal di Malaysia, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Desa Tegal Ciut, Kecamatan Klakah akhirnya bisa dipulangkan. Jenazah Misti Wati alias Ani diterbangkan dari Malaysia, Minggu (14/4), dan tiba di tanah air hari itu juga.
Jenazah tiba di Bandara Juanda
Jenazah tiba di Bandara Juanda.
Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Lumajang, Dwi Wismo menyampaikan, jenazah tiba di Bandara Juanda Surabaya sekitar pukul 10.00 WIB. Pihak keluarga sudah berada di sana untuk menunggu kedatangan jenazah.

“Jenazah sudah diterima keluarga di bandara didampingi Disnaker Jatim dan Ketua SBMI,” ucapnya. Kemudian jenazah langsung dibawa ke rumah duka di Lumajang untuk di makamkan di desanya. Dibawa menggunakan ambulan, jenazah tiba sekitar pukul 1 siang.

Wakil Bupati, Indah Ampewati bersama Kepala Dinas Tenaga Kerja Lumajang, Suharwoko terlihat sudah di rumah duka. “Wabup dan Kepala Disnaker langsung ke rumah duka,” kata Soekarmiati, Kepala Bidang Pengembangan Ketenagakerjaan Disnaker Lumajang.

Seperti diketahui, sebelumnya jenazah tak bisa dipulangkan, lantaran pihak keluarga tidak memiliki biaya untuk pemulangan. Karena yang bersangkutan bukan TKI resmi, sehingga keluarga harus menanggung sendiri biaya pemulangan jenazah.

Kemudian SBMI berinisiatif membantu pihak keluarga untuk pemulangan jenazah akhirnya membuahkan hasil. SBMI sebelumnya juga sempat menemui Bupati, Thoriqul Haq untuk membicarakan terkait ini.

Ketua SBMI Lumajang, Dwi Wismo mengatakan, biaya perawatan Misti Wati selama di rumah sakit ditanggung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur. Totalnya mencapai 17 ribu ringgit. “Atau sekitar Rp 60 juta,” katanya pada Memo Timur.

Selain itu KBRI juga menanggung biaya pemulangan jenazah sebesar 5 ribu ringgit atau sekitar Rp 17 juta. “Sementara untuk biaya pengambilan jenazah dari Bandara Juanda ke rumah duka ditanggung salah satu anggota DPR RI yang tidak mau disebutkan namanya,” terangnya.

Dikutip dari surat keterangan KBRI, perempuan berusia 43 tahun itu meninggal 31 Maret lalu di Al-Islam Specialist Hospital Kuala Lumpur. Misti Wati menderita Septicemia, salah satu penyakit serius karena infeksi bakteri. (fit)