Dukung Hasil Pemilu, Warga Lumajang Gelar Aksi Damai 21 Mei

Deklarasi Lumajang Damai 21 Mei. (*) 
Lumajang, Motim - Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan mengumumkan hasil Pemilu 2019 secara resmi pada 22 Mei. Warga Lumajang dari sejumlah komunitas dan organisasi mendukung apapun hasil Pemilu nanti. Sebagai bentuk dukungan nyata, mereka akan menggelar Aksi Lumajang Damai, Selasa (21/5) sore di Alun-Alun.

Koordinator Panitia Bersama, A'ak Abdullah Al-Kudus menyampaikan, rencananya aksi ini akan diikuti 1.000 orang lebih lebih. Diantaranya dari PCNU, MUI, Gusdurian, Laskar Hijau, tokoh lintas ima, serta komunitas dan organisasi lainnya.

"Namun kegiatan ini terbuka untuk umum. Jadi siapapun boleh hadir dan terlibat, untuk Lumajang yang hebat dan bermartabat,” katanya, Senin (20/5).

Dalam aksi ini, kata A’ak, akan diisi pagelaran seni oleh para seniman dari Lumajang. Kemudian ada orasi kebangsaan dari Bupati Thoriqul Haq dan Kapolres Lumajang AKBP M. Arsal Sahban. Selanjutnya, ada penandatanganan Deklarasi Lumajang Damai.

“Terakhir ditutup doa bersama dan buka puasa bersama,” ucapnya.

Tujuan utama aksi ini untuk merajut kembali persaudaraan dan perdamaian berbagai pihak yang terkoyak dalam beberapa bulan terakhir ini karena berbeda pilihan. Sekaligus menyerukan pesan damai untuk seluruh anak bangsa Indonesia.

“Juga untuk meneguhkan sikap terhadap bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika,” ucapnya.

A’ak menjelaskan, rencana ini muncul, berawal dari keprihatinan terhadap pelaksanaan Pemilu yang menyisakan banyak luka karena kelompok tertentu yang menolak dengan hasil Pemilu. Meskipun belum ada pengumuman resmi dari KPU.

“Bahkan berpotensi menjadi embrio perpecahan antar anak bangsa. yang pada akhirnya mengancam kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia,” jelasnya.

Menurut A’ak, pesta demokrasi seharusnya terselenggara dengan penuh gembira. Bukan sebaliknya, malah jadi menegangkan bahkan menyeramkan. “Kondisi ini tak lepas dari intrik-intrik politik yang menggunakan hoax dan isu sara yang menyebar tanpa kendali melalui media sosial hingga ke lapisan masyarakat paling bawah,” katanya. (*/fit)