Ketua Pordasi Lumajang, H. Siswanto Ditetapkan sebagai Tersangka

Lumajang, Motim - Ketua Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Lumajang, H. Siswanto akhirnya ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Lumajang.
H. Siswanto seusai menjalani pemeriksaan di Polres
H. Siswanto seusai menjalani pemeriksaan di Polres
Ia ditetapkan tersangka atas kasus kematian seorang bocah berusia 7 tahun dalam lomba pacuan kuda di Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun beberapa bulan lalu. Karena ketua panitia lomba itu adalah H. Siswanto.

Hal ini disampaikan oleh Kaur Bin Ops Sat Reskrim, Iptu Hariyanto, SH, M.H mendampingi Kasat Reskrim, AKP Hasran, SH, M.Hum kepada Memo Timur, Kamis (30/5). “Pak Sis sudah resmi ditetapkan sebagai tersangka sejak sepekan yang lalu,” katanya.

Menurutnya, dalam proses penyelidikan dan penyidikan yang makan waktu cukup lama itu tidak sia-sia. Karena penyidik berhasil memenuhi dua alat bukti untuk menetapkan H. Siswanto menjadi tersangka atas insiden tewasnya Maghda Agil Benzema karena diseruduk kuda.

Lanjut Kaur Bin Ops, Jumat (31/5), H. Siswanto akan dipanggil lagi oleh penyidik ke Polres Lumajang. Ia akan dimintai keterangan lanjutan oleh penyidik. “Ya, Jumat kita panggil mas,” tegasnya.

Sementara ayah korban, Usman Rofi’i alias Cong Ibra yang mendengar kabar ini, berterimakasih pada jajaran kepolisian yang telah menangani kasus tersebut. “Saya mengapresiasi kinerja polisi, apapun keputusannya,” ujarnya pada Memo Timur.

Sebelumnya selain H. Siswanto, ada banyak saksi yang telah diperiksa oleh Polres. Dalam kasus ini, ada dugaan pelanggaran Pasal 359 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Tentang kelalaian yang menyebabkan kematian dengan ancaman penjara maksimal 5 tahun.

Dalam lomba yang digelar Februari 2019 itu, ada salah satu satu joki yang tidak bisa mengendalikan kudanya. Sehingga kemudian mengarah ke luar lintasan dan menabrak Agil yang berada di pagar pembatas.

Agil sempat dibawa ke Puskesmas Yosowilangun kemudian dirujuk ke RSU Dr. Haryoto Lumajang. Meksi sudah menjalani perawatan, nyawa korban tidak terlolong. Ia menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit karena pembekuan darah yang ada di sekitar dadanya. (cho/fit)