Kopi Pasrujambe Berpotensi Besar, Dijual ke Berbagai Penjuru Nusantara

Lumajang, Motim - Kopi dari Lumajang memiliki potensi besar. Salah satunya adalah Kopi Pasrujambe. Bahkan kopi tersebut bukan hanya dijual di kalangan penikmat kopi di Lumajang saja. Namun sudah dijual ke berbagai penjuru nusantara.
Kopi Pasrujambe di Waroeng Ajuz
Kopi Pasrujambe di Waroeng Ajuz
Salah satu orang pemasok Kopi Pasrujambe ke berbagai daerah itu adalah Agus Setiawan. Selain barista, Ia merupakan pemilik Waroeng Ajuz di Jl. Abu Bakar. Ia menggandeng 3 petani kopi di Pasrujambe agar kualitas kopi terjaga.

Ada tiga varian kopi asli Pasrujambe yang diolah oleh Agus. Bukan hanya kopinya, Ia juga mengenalkan petani yang menanam kopi tersebut dengan menulis namanya di kemasan. Kopi arabika milik Pak Hafid, kopi ekselsa milik Mbah Ras, dan kopi robusta milik Mak Sul.

Agus banjir pesanan dari luar daerah. Seperti Surabaya, Yogyakarta, hingga Jakarta. Termasuk luar pulau seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. “Paling banyak nyuplai untuk Surabaya,” katanya.

Tak jarang pula, Agus sampai menolak pesanan. Karena stok dari petani juga terbatas tidak berbanding dengan permintaan yang tinggi. “Saya juga mengutamakan stok untuk di Lumajang. Jadi harus membagi stok,” ujarnya.

Menurutnya, permintaan terbanyak adalah untuk varian robusta. Padahal stok dari petani tidak banyak. “Permintaan dari Surabaya bukan hanya 5 kilogram, tapi bisa sampai 60 kilogram. Itu satu kedai. Bisa seminggu sekali pesan,” ujarnya.

Agus menceritakan, awalnya Ia melihat potensi kopi Pasrujambe yang luar biasa. Namun tidak diolah dengan baik oleh petani. “Jika kopinya bagus, tapi jika tidak diproses dengan bagus, maka kualitas dan rasanya akan biasa saja,” ujarnya.

Ia pun melakukan pendampingan pada 3 petani kopi di sana yang menanam varian kopi berbeda. “Mulai cara memanen hingga green bean atau kopi siap roasting harus didampingi agar kualitas terjaga,” ujarnya.

Sebelumnya, 3 petani tersebut asal panen dan menjual kopinya pada tengkulak. Sehingga harganya rendah, di kisaran Rp 21 ribu perkilogram. Setelah Agus melakukan pendampingan dan kualitas meningkat, Ia berani membeli kopi dari petani itu hingga Rp 30 ribu perkilogram.

“Semenjak itu, mereka tidak lagi menjual kopi ke tengkulak. Mereka percaya menjual biji kopinya pada saya,” ujarnya. (fit)