Stop Rokok Ilegal! Cukai Penyumbang Terbesar Negara

Stop rokok ilegal. (*) 
Lumajang, Motim - Peredaran rokok ilegal terus di tekan, tak terkecuali di Lumajang. Karena dikatahui, cukai rokok menjadi salahsatu penyumbang terbesar bagi negara. Jika banyak rokok ilegal beredar, tentunya negara akan banyak dirugikan.

Perwakilan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C (KPPBC TMP C) Probolinggo terus melakukan sosialisasi. Termasuk bekerjasama dengan Pemkab Lumajang untuk mempersempit ruang peredaran rokok ilegal.

Pada akhir bulan lalu KPPBC TMP C telah melakukan sosialisasi di Lumajang. Hadir Wakil Bupati Lumajang Indah Amperawati. Dalam kesempatan itu, wabup juga menandatangani deklarasi ‘Stop Rokok Ilegal.

Indah memberikan penjelasan, rokok ilegal terbagi dalam 5 golongan. Yakni rokok polos, rokok dengan pita cukai palsu, pita cukai bekas, pita cukai yang bukan haknya, dan pita cukai yang tidak sesuai peruntukannya.

“Harus ada sosialisasi agar masyarakat melalui RT, RW dan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) di masing – masing kecamatan yang dekat dengan masyarakat kemudian ditularkan ke masyarakat untuk mengetahui mana sih rokok yang ilegal,” tuturnya.

Ia menyadari bahwa rokok bagaikan dua mata pisau, rokok berdampak pada kesehatan masyarakat, namun disisi lain, cukai rokok menyumbang pendapatan yang cukup besar bagi negara.

“Oleh sebab itu, Pemerintah tentu melakukan ikhtiar bagaimana rokok itu dibolehkan tetapi dikendalikan, hanya rokok resmi menurut negara yang boleh beredar di pasaran, rokok palsu tidak boleh beredar,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Lumajang Sukamto meminta kepada masyarakat untuk aktif melaporkan jika menemukan peredaran rokok yang tidak sesuai dengan peraturan.

“Harapan kami agar peserta dapat mencegah peredaran rokok ilegal di Lumajang. Karena toko dan warung di desa - desa menjadi sasaran sales rokok nakal yang tidak menggunakan pita cukai asli atau yang sesuai dengan peraturan,” harapnya.

Sekretaris Dinas Perdagangan Lumajang Aziz Fahrurrozi menjelaskan, jika pihaknya juga terus berupaya menekan peredaran rokok ilegal di pasaran. Diantaranya dengan mengingatkan para pedagang.

“Jika ada sales yang menawarkan rokok ilegal, harus ditolak, karena itu melanggar hukum,” katanya.

Kemudian, untuk mempersempit peredaran, pihaknya juga sudah berulang kali melakukan sidak ke pedagang. Khususnya di daerah pinggiran yang kerap menjadi sasaran. “Karena di pinggiran juga sulit terjangkau dan jauh dari pengawasan,” pungkasnya.

Sesuai dengan aturan, pelaku peredaran rokok ilegal diancam hukuman pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun, dan atau pidana denda paling sedikit 2 kali nilai cukai dan paling banyak 10 kali nilai cukai yang harus dibayar. (fit)