Minim Tanaman Penguat, Longsor Terus Mengintai Piket Nol

Jalur Piket Nol rawan longsor. (*)
Lumajang, Motim - Bencana longsor di jalur Piket Nol sudah sering terjadi. Dari catatan Memo Timur, sepanjang 2019 hingga saat ini, setidaknya sudah ada 4 kejadian. Terkahir pada Jumat (14/6) lalu. Longsor terparah adalah pada Maret. Karena banyak material longsor yang harus dibersihkan, dan membutuhkan waktu berhari-hari.

Badan Penanguulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang sudah melakukan maping, bahwa daerah rawan longsor berada di kilometer 53 hingga 59. Di sana sudah ada retakan-retakan pada tebing.

Kepala Bidang Kesiapsiagaan, Kedaruratan, dan Logistik, Wawan Hadi Siswoyo menyampaikan, penyebabnya adalah kontur tanah di atas tebing yang labil. Kemudian juga minim tanaman penguat tanah di sana.

“Tanamana penguat tinggal sedikit. Mulai muncul retak-retak. Setelah musim kemarau panjang kemudian hujan, retakan itu kemasukan air. Dan banyak getaran dari kendaraan juga berpengaruh,” katanya pada Memo Timur, Selasa (18/6).

Namun Ia tidak bisa menyebutkan, jenis tanaman apa yang tumbuh di atas tebing saat ini. Ia juga tidak berani menyebut adanya alihfungsi lahan, karena itu merupakan wewenang dari pihak Perhutani.

“Saya tidak paham, itu wewenang Perhutani. Soal alih fungsi lahan, tidak tahu tanyakan ke Perhutani,” ucap Wawan.

Wawan menegaskan, untuk urusan Piket Nol, memang melibatkan Perhutani untuk masalah lahan atau hutannya, sementara jalannya adalah wewenang Balai Besar Jalan Nasional. Sementara BPBD untuk maping dan penanganan bencananya.

“BPBD sekadar maping dan koordinasi denga pemangku kewenangan, Perhuatani atau Balai Besar. Kita komunikasikan secara intens dengan mereka. Ketika terjadi sesuatu juga jadi cepat penanganannya,” jelasnya.

Hasil maping ini juga perlu disampaikan pada masyarakat. Agar para pengendara yang melintas di sana bisa terus hati-hati dan waspada. “Kita menganalisia, daerah rawan mana saja, kita sampaikan pada masyarakat. Karena potensi longsor masih ada,” pungkasnya. (fit)