Cabai Rp 70 Ribu Perkilogram, Dindag Sebut Stok Menipis

Cabai. (*) 
Lumajang, Motim - Sama seperti di daerah lainnya, harga cabai di Lumajang tambah melambung tinggi. Bahkan harganya sudah menembus angka Rp 70 ribu perkilogram. Dinas Perdagangan (Dindag) Lumajang menyebut, penyebabnya karena stok yang menipis.

Harga cabai di sejumlah pasar besar memang berbeda. Dari laporan Dindag Lumajang, di Pasar Sukodono yang paling tinggi. Cabai rawit Rp 70 ribu perkilogram, cabai biasa Rp 47 ribu perkilogram, dan cabai keriting Rp 48 ribu perkilogram.

Di Pasar Baru, harga cabai rawit Rp 60 ribu perkilogram, cabai biasa Rp 40 ribu perkilogram, dan cabai keriting Rp 37 ribu perkilogram. Di Pasar Pasirian, harga cabai rawit Rp 57 ribu perkilogram, cabai biasa Rp 48 ribu perkilogram, dan cabai keriting Rp 58 ribu perkilogram.

Sekretaris Dindag Lumajang Aziz Fahrurrozi menyampaikan, pihaknya terus melakukan monitoring terkait harga tersebut. Memang tidak ada yang bisa dilakukan untuk menekan harga tersebut. Lantaran kenaikan harga bukan hanya di Lumajang.

“Seluruh Indonesia sama, harga naik,” katanya pada Memo Timur, Kamis (18/7).

Menurutnya, harga dari petani memang sudah tinggi. Sehingga pedagang menjualnya juga dengan harga tinggi. Penyebabnya, adalah stok dari petani yang menipis. Sedangkan permintaan tetap tinggi.

“Hukum pasar, ketika jumlah barang menurun dan permintaan meningkat. Tentunya harga barang bisa menjadi lebih mahal,” ujarnya.

Jumlah stok yang menipis itu juga disebabkan adanya perubahan cuaca saat ini. Diketahui, saat ini sudah memasuki musim kemarau. Sehingga berdampak pada tanaman cabai yang tidak tumbuh maksimal.

“Musim kemarau salahsatu pemicunya,” ungkap Aziz.

Jadi Ia juga memastikan dalam kondisi seperti ini, tidak ada permainan dari para tengkulak di Lumajang. Semuanya murni harga dari petani yang tinggi. “Karena juga bukan hanya di Lumajang,” jelasnya.

Ia menambahkan, saat ini kebutuhan cabai di Lumajang lebih banyak dipenuhi oleh petani Lumajang sendiri dan daerah sekitar Lumajang. “Kalau kondisi di luar daerah sama, tentunya suplai dari Lumajang atau luar daerah juga berkurang juga,” pungkasnya. (fit)