Dua Ribu Kepala Keluarga Terdampak Kekeringan

Lumajang, Motim - Bencana kekeringan kembali melanda Lumajang. Bencana tahunan di tiap musim kemarau ini, selalu melanda sejumlah kecamatan di Lumajang. Ada 2 ribu Kepala Keluarga (KK) di sana yang terdampak. Mereka kesuliltan air bersih setiap hari.
BPBD menyuplai air bersih di daerah kekeringan
BPBD menyuplai air bersih di daerah kekeringan
Data dari Badan Penanggulangan Bencna Daerah (BPBD) Lumajang, ada 42 dusun di 18 desa yang kesulitan air bersih. Jumlah tersebut tersebar di 6 kecamatan. Yakni Kecamatan Randuagung, Klakah, Ranuyoso, Kedungjajang, Padang, dan Gucialit.

Di Kecamatan Ranuyoso, desa terdampak di Sumberpetung, Jenggrong, dan Wonoayu. Kecamatan Klakah, di Desa Tegalciut, Sawaran Lor, Kebonan, dan Papringan. Kecamatan Kedungjajang, di Desa Bence, Krasak, dan Bandaran.

Untuk Kecamatan Padang, di Desa Barat, Kalisemut, dan Merakan. Kecamatan Gucialit, di Desa Gucialit, Pakel, dan Dadapan. Sedangkan di Randuagung, di Desa Salak dan Gedangmas. Keseluruhan ada 2.607 KK yang terdampak dengan total 9.413 jiwa.

Dalam pemetaan kondisi kekeringan ini, BPBD membagi menjadi 3 kategori sesuai dengan ketersediaan air. Yakni terbatas, langka, dan kritis. Ada 2 desa di Kecamatan Ranuyoso yang dikategorikan kritis, yaitu Desa Jenggrong dan Wonoayu.

“Sebenarnya rata-rata parah, namun untuk di Kecamatan Ranuyoso dengan grade yang tinggi,” kata Kepala Bidang Kesiapsiagaan, Kedaruratan, dan Logistik BPBD Lumajang, Wawan Hadi Siswoyo pada Memo Timur, Senin (1/7).

Untuk mengatasi ini, BPBD Lumajang telah menyuplay air bersih tiap hari ke sana. Ada 4 armada yang dikerahkan. Tiap armada melakukan pengiriman sampai 6 kali. “Kapasitas tangki 5 ribu liter,” ucapnya.

Selain 18 desa itu, Wawan menambahkan ada kekeringan di 4 desa lainnya. Tapi mampu ditangani sendiri oleh pihak desa masing-masing. BPBD hanya memberikan pinjaman truk tangki kepada desa tersebut.

“Ada Wates Wetan (Ranuyoso), Wates Kulon (Ranuyoso), Penawungan (Ranuyoso), dan Kedawung (Padang). Itu pihak desa yang menyuplai air sendiri,” jelas Wawan.

Lanjut dia, kekeringan ini terjadi di Lumajang sebelum adanya ramalan dari Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisikan (BMKG). Karena BMKG meramal, baru awal Juli ini kekeringan terjadi.

“Di Lumajang sebelum itu, warga sudah kesulitan. Maka pada 17 Juli 2019 kita sudah melakukan droping air,” pungkasnya. (fit)