Sesilia, Siswi Lumajang jadi Anggota Paduan Suara Upacara 17 Agustus di Istana Merdeka

Sesilia bersama kepala sekolah. (fit)
Lumajang, Motim - Prestasi luar biasa kembali ditorehkan pelajar Lumajang. Sesilia, siswi SMAK Mgr. Soegijapranata Lumajang berhasil lolos jadi anggota paduan suara untuk Upacara 17 Agustus di Istana Merdeka, Jakarta.

Jalan panjang dan berliku harus dilalui gadis bernama lengkap Sesilia May Dwi Cahyanti Ningrum Ispriyanto. Agar bisa masuk dalam grup paduan suara yang dibentuk oleh negara dan dikenal dengan nama Gita Bahana Nusantara (GBN).

Diketahui seleksi untuk masuk ke GBN sangat ketat. Karena ada tahapan seleksi yang harus dilalui, dari tingkat kabupaten dan provinsi. Apalagi calon anggota berasal dari seluruh penjuru Indonesia tentunya.

Gadis berusia 17 tahun itu menceritakan, pada tahun sebelumnya Ia juga mengikuti seleksi. Namun impiannya pada 2018 itu pupus. Ia terhenti di tingkat kabupaten. Bukan karena kualitas suaranya yang tidak mumpuni. Melainkan ada sesuatu hal, sehingga dirinya memilih mundur.

Di tahun ini, Ia kembali berjuang untuk bisa bernyanyi pada Upacara HUT Kemerdekaan Republik Indonesia di hadapan Presiden Joko Widodo. Gadis yang akrab dipanggil Sesil ini, berhasil mewakili Lumajang bersama 3 anak lainnya untuk mengikuti seleksi di tingkat provinsi.

“Setiap kabupaten harus mengirimkan 4 anak dari jenis suara berbeda. Ada sopran, alto, tenor, dan bas. Saya ambil sopran,” ucap gadis kelahiran 24 Mei 2002 itu saat ditemui Memo Timur di sekolahnya, Rabu (17/7).

Ia mengisahkan, untuk mengikuti seleksi di Surabaya itu, harus berangkat dengan uang pribadi. Karena panggilan seleksi ini tidak melalui sekolah maupun dinas terkait. Ia harus merogoh uang Rp 125 ribu untuk biaya travel.

Informasi seleksi tersebut juga mendadak. “Baru datang dari Lampung, besoknya sudah harus audisi. Seketika malam itu cari travel kemudian berangkat ke Surabaya dan sampai sana pukul 4 pagi,” kata siswi yang baru naik ke kelas XII ini.

Sampai Penginapan Remaja, tempat seleksi digelar, Sesil tidak memiliki banyak waktu beristirahat. Pukul 7 pagi sudah harus melakukan pendaftaran. Karena berangkat mendakak, Ia belum menyiapkan berkas pendaftaran. Sehingga pagi itu juga harus mengurus semuanya.

Sesil yang baru pertama kali di Surabaya, harus kebingungan untuk mencari tempat fotokopi dan print. Waktu yang mepet, Ia harus berlarian dan tanya orang-orang di pinggir jalan. Ia sudah lupa seberapa jauh berlari hingga kelelahan untuk mencetak dokumen pendaftaran tersebut.

“Sekitar 30 menitan baru terisi lembaran pendaftaran itu,” ujar gadis yang tinggal di Griya Perumnas Permai Jatiroto tersebut.

Namun perjuangannya tidak sia-sia. Ia bersama 4 anak lainnya terpilih mewakili Jawa Timur masuk GBN. Ia juga berhak mendapat sertifikat dan uang Rp 75 ribu. “Puji Tuhan, saya dapat 2 sertifikat, jadi Rp 150 ribu. Bisa nutup biaya travel berangkat dan pulang,” ungkapnya.

Gadis berparas cantik itu menambahkan, pada 1 Agustus mendatang dirinya sudah harus berada Jakarta. Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh pihak GBN. “Siang itu sudah harus di Jakarta,” ucapnya.

Mulai tanggal itu sudah memasuki masa karantina bersama anggota GBN yang telah lolos. Untuk berangkat ke Jakarta, belum ada informasi lanjutan terkait ditanggung tidaknya biaya pemberangkatan. Jika tidak ada, tentunya, kembali harus menggunakan uang pribadi.

Sebelum berangkat, saat ini Ia mulai melakukan persiapan, diantaranya mengurus kelengkapan administrasi. “Harus mengurus surat izin dari sekolah,” pungkasnya.

Selain memang hobi bernyanyi, Sesil memang memiliki bakat tersebut sejak kecil yang diturunkan oleh sang ayah. Sudah tak terhitung prestasi sebelum ini yang sudah Ia sabet. Mulai dari tingkat kabupaten hingga provinsi.

Sementara Kepala Sekolah SMAK Mgr. Soegijapranata Lumajang Drs. Eko Pujiasworo mengaku bangga dengan prestasi yang diraih salahsatu siswinya. “Ini prestasi luar biasa,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya.

Di mata dia, Sesil memang anak yang memiliki bakat di bidang bernyanyi. Sudah banyak prestasi yang diraih. Bahkan terkadang sekolah tidak mengetahui. Karena lomba yang diikutinya secara pribadi tidak mengatasnamakan sekolah.

“Kita dari pihak sekolah pun terus memberikan dukungan pada dia,” pungkasnya. (fit)