Hafis Meninggal Dunia Setelah Divonis Kanker dan Diamputasi

Kondisi Hafis di rumah sakit sebelum meninggal. (fit)
Lumajang, Motim - Hafis Krisdian Putra dikabarkan meninggal dunia, Kamis (22/8) sore sekitar pukul 16.30 WIB. Sebelum berpulang, Memo Timur bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Lumajang sempat menemuinya di rumah sakit pada pagi hari.

Saat ditemui, Ia hanya tertunduk lemas. Menyandarkan kepalanya di pembatas tempat tidur. Tubuhnya yang sangat kurus itu tidak banyak bergerak. Ia telah divonis kanker tulang. Kakinya telah diamputasi. Ia juga harus melawan sesak nafas yang menderanya.

"Sudah empat hari ini tidak mau makan. Hanya minum susu," kata Winda, sang Ibu. Anak berusia 13 tahun itu sejak Minggu (18/8) malam, harus kembali dirawat di RSUD dr. Haryoto. Karena kondisi kesehatannya terus menurun.

Dengan mata berkaca-kaca dan sesekali meneteskan air mata, Ibunda Hafis menceritakan penyakit yang menyerang anaknya. Sekitar setahun lalu, kaki kiri Hafis terbentur meja dan terluka.

Awalnya hal itu dianggap benturan biasa. Namun kemudian terjadi pembengkaan pada kakinya hingga cukup parah. Pihak keluarga berupaya mencari pengobatan. Kemudian disarankan kaki Hafis untuk diamputasi.

"Namun saat itu anaknya (Hafis) menolak," ucap warga RT 29 RW 4 Dusun Kampung Baru Desa Tempeh Tengah Kecamatan Tempeh tersebut.

Ketika divonis kanker tulang, selain ke dokter, keluarga juga membawa Hafis ke pengobatan alternatif. Nampaknya upaya tersebut terlihat berhasil. Kondisi kakinya nampak membaik. Pembengkaan pada kakinya berangsur mengecil.

Namun ketika kondisi hendak sembuh, kakinya kembali terbentur hingga kambuh lagi. Sejak itu, luka di kaki Hafis kian parah. Beberapa bulan lalu Ia harus terus-menerus mendapat penanganan intensif. Pada akhir Juli 2019, akhirnya kakinya diamputasi.

Setelah diamputasi, sudah tidak ada masalah pada kakinya. Kondisi kakinya juga berangsung mengering. "Sudah tidak apa-apa, jahitannya juga bagus," terang ujar ibu tiga anak ini. Namun penderitaannya tidak sampai di situ, sesak nafas menyerang dirinya.

Siswa MTS Assyarifi Pandanwangi itu jadi sulit tidur. Nafsu makannya juga terganggu. "Pernah makan, namun muntah, kembali semua. Akhirnya Ia trauma," ujarnya. Selain susu, satu-satunya asupan yang masuk dalam tubuhnya adalah cairan infus.

Dengan kondisi tangan terinfus, Ia nampak pasrah di ruang rawat inap. Ia tak bisa tidur terlentang, karena lebih kesulitan untuk bernafas. Ia memilih bersandar pada pembatas tempat tidurnya.

Winda menuturkan, meski dalam kondisi kesehatan yang buruk, sebenarnya Hafis sudah tidak mau dibawa ke rumah sakit. “Ketika dibawa ke rumah sakit, Ia dalam kondisi tidak sadar. Tidak mau di rumah sakit. Ini minta pulang terus,” ungkapnya.

Ia menambahkan, ayah Hafis sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Hafis adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Mereka tergolong keluarga yang kurang mampu. Untuk perawatan di rumah sakit, mengandalkan Kartu BPJS. (fit)