Puncak Kemarau Diprediksi pada Agustus-September

BPBD menyuplai air bersih. (*)
Lumajang, Motim - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang memprediksi puncak kemarau terjadi pada Agustus hingga September. Hal ini sesuai dengan ramalan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kepala Bidang Kesiapsiagaan, Kedaruratan, dan Logistik BPBD Lumajang, Wawan Hadi Siswoyo mengatakan, sesuai ramalan BMKG itu, seharusnya musim hujan dimulai pada bulan Oktober 2019.

“Karena di tahun ini akan mundur beberapa hari, sekitar 10-30 hari, tergantung pada kondisi perubahan iklim di Indonesia,” ujarnya, Rabu (14/8).

Wawan juga menyampaikan, bahwa musim kemarau yang berdampak kekeringan telah berlangsung selama beberapa minggu belakangan. Saat ini dampaknya sudah mulai dirasakan oleh masyarakat, salah satunya adalah kekeringan yang menyebabkan krisis air bersih.

Untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih, Pemkab Lumajang melalui BPBD setiap hari melakukan suplai air bersih. “Sebanyak 24 titik wilayah Lumajang yang mengalami krisis air bersih,” katanya.

Selain itu, pihaknya terus berupaya untuk melakukan penyaluran air bersih sebanyak 120 ribu liter per hari pada 6 kecamatan yang mengalami krisis air bersih. Yakni Kecamatan Ranuyoso, Klakah, Kedungjajang, Randuagung, Padang, dan Gucialit.

“Selain itu, kami juga telah memberikan hak pinjam pakai sebanyak empat unit truk tangki air bersih kepada Pemerintah Desa Kedawung, Wates Kulon, Wates Wetan, dan Penawungan untuk melakukan penyaluran air bersih di desanya masing-masing,” ujarnya. (fit)