Santri di Lumajang Salat Gaib untuk Mbah Moen

Ponpes Kyai Syarifuddin melaksanakan salat gaib. (*) 
Lumajang, Motim - Meninggalnya KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen membuat umat islam di Indonesia merasa sangat kehilangan sosok kiai karismatik itu. Tak terkecuali di Lumajang. Salat gaib dan tahlil pun digelar untuk mendoakan Mbah Moen yang meninggal di tanah suci.

Pondok Pesantren Kyai Syarifuddin pun menggelar salat gaib dan tahlil, Rabu (7/8). Pimpinan pondok dan ribuan santri mengikuti sholat gaib dan tahlil yang dilaksanakan di halaman kampus IAIS, Desa Wonorejo Kecamatan Kedungjajang.

Pengasuh Ponpes KH Adnan Syarif mengatakan, Mbah Moen adalah sosok yang jadi panutan bagi ulama di Indonesia. Pengabdian pada Nahdlatul Ulama (NU) dan bangsa Indonesia patut dicontoh oleh generasi penerus bangsa dalam syiar islam.

"Meskipun usia sudah tua dan sepuh, dia tetap membagi ilmu pada santrinya," jelasnya.

Ketika Ia mendengar Mbah Moen meninggal dunia, dirinya langsung membaca tahlil. Bahkan saat mendapat foto jenazahnya sangat takjud dengan raut mukanya yang bersinar. "Mari kita lanjutkan penjuangan beliau," paparnya.

Pengurus Cabang NU Lumajang sendiri telah mengintruksikan kepada warga NU untuk melaksanakan salat gaib dan tahlil pada Mbah Moen. Instruksi ditujukan kepada pengurus, lembaga, banom, pesantren, Majelis Wakil Cabang (MWC), ranting, dan takmir masjid.

Ketua PCNU Lumajang, Gus Mas’ud mengatakan, dirinya sangat merasa kehilangan atas meninggalnya Mbah Moen. “Kapasitas keilmuannya yang sangat mumpuni serta sikap beliaun sering menjadi referensi bagi Nahdlatul Ulama,” ungkapnya dikutip dari situs resmi NU Lumajang.

Menurutnya, Mbah Moen, bukan hanya milih NU, tapi milik bangsa Indonesia dan guru bagi semua. “Beliau adalah guru bagi kita semuanya, kali ini NU dan bangsa Indonesia benar-benar kehilangan tokoh penting pembimbing agama bangsa dan negara,” ujarnya. (*/fit)