Soal "Bebekan", H. Makhsus: Jika Bupati Tidak Digubris, Kedepan Susah

H. Alfan Makhsus. (fit)
Lumajang, Motim - Nama H. Alfan Makhsus adalah sosok yang dikenal luas oleh berbagai kalangan di Lumajang. Memo Timur memiliki kesempatan untuk berbincang langsung dengan salahsatu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) tersebut, Selasa (20/8). Diantaranya membahas seputar Lumajang terkini.

Salahsatu tema bahasan, adalah berita terkini mengenai penertiban tempat maksiat di Lumajang. Seperti diketahui, Bupati Lumajang Thoriqul Haq telah membuat kebijakan untuk menutup semua tempat maksiat yang ada. Namun tidak semudah itu, ada kendala yang harus dihadapi.

Pada Senin (19/8), petugas Satpol PP Lumajang berhasil menyiduk sejumlah PSK di kawasan eks lokalisasi Bebekan Desa Kabuaran Kecamatan Kunir. Padahal akhir Juni lalu, bupati sendiri yang memimpin pembongkaran belasan bangunan yang jadi sarang prostitusi itu.

Pria kelahiran 1949 itu merespon pertanyaan Memo Timur. Meski sebenarnya Ia enggan mengomentari banyak hal tersebut. Lantaran menurutnya itu bukan masalah besar dan seharusnya bisa cepat diatasi oleh jajaran kecamatan.

“Kalau saya, tidak bisa memberikan solusi. Yang bisa memberikan solusi itu ya Pak Bupati. Kalau sudah membongkar kemudian tidak direken (digubris), kan bupati bisa memerintahkan camatnya, karena itu aparatnya ada,” katanya saat ditemui di kediamannya di Jl. Panjaitan.

Namun Ia menilai komitmen bersama untuk membebaskan Lumajang dari tempat maksiat memang harus dipegang. “Katanya kemaksiatan di Lumajang ini harus diberantas, itu harus konsekuen kita,” ucap pria yang kebetulan mengenakan sarung hitam dan songkok hijau itu.

Dirinya juga menyayangkan, jika keputusan bupati ini tidak digubris dan tidak berdampak pada akar masalah yang ada. “Jangan sampai instruksi Pak Bupati ini, tidak berdampak. Tidak direken (digubris). Kedepannya kita yang susah,” jelasnya.

Karena jika bupati masih kesulitan memberantas tempat maksiat di kawasan Bebekan, yang menurutnya bisa disebut tempat prostitusi skala kecil, bagaimana dengan tempat yang maksiat lainnya yang lebih besar.

“Kegagalan penutupan prostitusi yang ada di Bebekan ini menjadi pertaruhan bupati terhadap tempat-tempat maksiat yang lain,” lanjutnya.

Jika upaya pembongkaran itu dianggap solusi, Ia menyebut cara itu bisa tetap dipakai. “Kalau itu solusi, pertahankan, sampai kemaksiatan tidak ada,” ungkap sosok yang juga akrab dipanggil Cak Sus itu.

Namun yang juga menjadi ironi, kata dia, adalah bupati berasal dari Kecamatan Kunir. Artinya tidak jauh dari tempat tersebut. “Ingat loh, Pak Bupati itu asalnya dari Kunir. Kita sama-sama malu kalau Bebekan itu masih beroperasi,” tegasnya.

Jika hal itu tidak bisa diselesaikan, H. Makhsus juga menyebut ini menyangkut harga diri bupati. “Ada yang menyangkut harga diri, apalagi ada yang lebih besar dari itu, Dolog lebih besar. Masak kalah sama Bu Risma (Walikota Surabaya yang menutup Dolly),” pungkasnya. (fit)